"Wow, Saudara laki-laki. Ada apa dengan wajah tampanmu itu?” Luhan bertanya mengejek sambil tertawa terbahak-bahak disusul anak-anak lain ketika melihatku datang dengan wajah babak-belur.
Aku memaksa Kai menyingkirkan kakinya dan merebut tempat duduknya. "Diam!"
“Diam, diam, diam, diam, diam!” Luhan menirukan ucapanku, “kalian dengar itu? Diam, Tuan pemarah kita sepertinya habis kalah berkelahi dan sekarang dia tengah sangaaaat malu—aww!”
Aku melepas sepatu Kai paksa dan melemparkannya tepat diwajah sok asyik Luhan. “Diam, Sialan!” Aku mendengus kesal, sekali lagi dia mencari masalah akan aku pastikan wajahnya bonyok.
“Ck, terlalu banyak.”
“Luhan sedang mencari malaikat mautnya,” sahut Tao menanggapi— yang berada jauh dariku.
Aku menangkap sepatu Kai yang Luhan lempar balik padaku yang langsung direbut oleh si pemilik sepatu.
Kai memakai sepatunya sambil menggerutu, “Jangan ganggu sepatu Gucci-ku.” Lalu melenggang pergi meninggalkan kami dengan wajah tertekuk.
“Jingin ginggi sipiti GICCI-ki.” Aku memutar bola mata malas ketika lagi-lagi Luhan mencibir dan menirukan gaya bicara seseorang.
Aku memilih meraba ponsel dan memasukkan earphone ke telinga dengan cara melingkarkannya—dari atas ke bawah— ke telinga dan memasang volume tinggi ketika tiba-tiba Baekhyun berkata, “Bersihkan lukamu.” Aku diam tak menanggapi dan lebih memilih menyandarkan punggungku dengan mata terpejam lelah. “Tapi kalau kau mau infeksi, sih, ya terserah,” lanjutnya.
“Hmmm,” jawabku tak minat, benar-benar tidak minat. Mungkin kalau tidak ingat mereka adalah teman-temanku, aku akan menjadikan mereka samsak atas kekalahanku beberapa saat lalu! Ah, sialan! Kenapa aku jadi mengingat wajah sengaknya lagiz sih!
“Mau ke mana kau, Han?” tanya Lay, aku dapat mendengar cara bicaranya yang khas.
“Hidup untuk makan. Kau tahu, Lay? Menikmati hidup selagi masih hidup sebelum akhirnya mati dan menjadi santapan belatung,” jawab Luhan.
“Aku serius, Berengsek!” Lay marah, dia merasa tengah dipermainkan.
“Ck, kamu tidak bisa.”
“Aku ikut!” seru Baekhyun.
"Ayo," ajak Luhan.
“Belikan aku jjajangmyeon, tokkebi hot dog, jjamppong, samgyeopsal—”
“Aku bukan Suho yang bisa membelikan restoran untukmu, Sialan!”
"Hah, jangan tendang tulang keringku seperti itu! Oke, belikan akutangsuyuk saja.”
“Aku pastikan kau makan angin, Hyun.”
Bibirku menyeringai, samar-samar—diantara hentakan musik keras yang tengah menghujam gendang telingaku—aku masih dapat mendengar pertengkaran teman-temanku yang tidak berguna itu.
“Di mana motormu, Hyun?”
“Hehe, di bengkel.”
Aku mengembuskan napas halus, berusaha tidur, mungkin? Tubuhku terutama wajah rasanya nyeri, seharusnya aku mendengarkan Baekhyun untuk membersihkan lukanya dulu, tapi demi setan! Itu hanya akan membuatku merasa terlihat menyedihkan setelah kekalahan yang aku terima. Meski wajahku harus terinfeksi, masa bodoh, ini lebih baik daripada terlihat menyedihkan!
Aku merasakan seseorang menyenggol pahaku dengan kakinya.
“Kalau kau seperti ini, justru kau malah akan terlihat menyedihkan,” sindir Tao. Sementara aku diam tak menjawabnya, anggap saja anak dengan lingkaran hitam disekitar matanya itu tak ada.
“Chanyeol, kami pergi dulu.” Itu suara Kris. “Mau menitip sesuatu tidak?”
Tanpa mengubah posisi nyamanku, aku hanya bergumam untuk menanggapi, “Hmmm.”
“Aish, Si Sialan ini benar-benar!”
Samar-samar, aku merasakan hawa keberadaan mereka sepenuhnya menjauh sebelum akhirnya benar-benar menghilang. “Sekarang aku sendirian.”
Ada banyak hal yang mengganggu pikiranku sejak Jongdae mengatakan bahwa dia tengah mengandung, anakku. Rasanya sangat asing, dilihat dari segi manapun kami berdua belum siap menjadi orang tua, kehidupanku sendiri saja bahkan masih bergantung pada orang tuaku, begitupun Jongdae. Jadi kami sama sekali tak pantas? Mengapa yang namanya Tuhan itu semena-mena sekali pada umatnya? Memang milihanku untuk tak memujanya adalah pilihan terbaik.
Tetapi faktanya tetap saja, bahwa sekarang kami adalah calon orang tua? Mau bagaimana caranya, aku harus menyingkirkan makhluk itu dari perut Jongdae, tidak peduli apa kata Jongdae, tidak peduli bahwa Sehun yang akan menggantikanku menerima hukuman. Aku bukan pengecut yang seperti itu, aku akan menerima hukumanku sendiri, aku tidak perlu orang lain apalagi itu Oh Sehun!
Aku menyelonjorkan kakiku, membuat tubuh jangkungku merosot kebawah sofa dan membuat punggungku menekuk canggung. Sekarang, wajah Jongdae berputar-putar dalam otakku. Mungkin jika satu jam lagi aku tak segera bertemu dengannya aku akan jadi gila.
Wajahnya ketika tersenyum lebar, wajahnya ketika merajuk, wajahnya ketika marah, wajahnya ketika takut, dan wajah panasnya ketika bersetubuh denganku.
“Aish, Junior Sialan!” Aku membuka mata, membungkukkan tubuh, dan mengacak rambut kesal. Gara-gara memikirkan Jongdae sekarang benda panjang diantara selangkanganku itu berdiri tegak.
Aku memeriksa jam diponsel untuk mengalihkan perhatian. Sudah pukul 01.26 pagi dan anak-anak tidak ada yang kembali ke kamp basis; mungkin pulang ke rumah atau mengunjungi Kyungsoo yang masih dirawat di rumah sakit—itu pun kalau jam besuknya masih ada.
Sedangkan aku tetap bergeming ditempatku, sendirian. Pandanganku berkeliling kesetiap sudut di mana anak-anak selalu memenuhi tempat itu. “Hah, mungkin beberapa tahun lagi tempat ini hanya akan menjadi sampah atau kalau beruntung ada orang lain yang akan memungutnya.” Tempat itu sudah dibersihkan kembali ketika tempo hari anak-anak yang entah datang dari mana mengacak-acak tempat ini. Mereka semua sudah berhasil dibereskan, sementara motor mereka kami jual dan uangnya Suho simpan.
Aku membusungkan dada untuk menarik napas lebih dalam, akhir-akhir ini rasanya dadaku sesak sekali. Apa karena terlalu banyak menyerap tembakau? Apa ini artinya aku harus mulai berhenti merokok—jangankan berhenti, mengurangi jumlah tembakau yang aku sesap setiap harinya saja aku belum yakin berhasil.
“Jongdae sedang apa, ya?” Aku tidak akan munafik, aku merindukan sosok bersuara cempreng yang sudah mencuri jiwaku itu. Lalu, ingatan itu tiba-tiba saja membawaku akan pernyataan Sehun bahwa dia akan menikahi Jongdae. “Arghh, Sialan!”
Aku mengacak rambut frustasi, berusaha memikirkan langkah apa yang harus aku ambil untuk Jongdae dan makhluk didalam perut Jongdae itu, juga Sehun yang merecoki urusanku.
Dititik ini, aku sadar bahwa aku adalah seorang pecundang. Demi langit dan bumi aku menyayangi Jongdae, tapi tidak untuk makhluk didalam perut Jongdae. Makhluk itu hanya akan menghancurkan masa depanku dan Jongdae. “Aku akan benar-benar memberinya pelajaran nanti—”
“Tak jauh dari sini ada balap liar.”
Aku mendongakkan kepala ketika suara Xiumin tiba-tiba menginterupsi kekesalanku. “Siapa?”
Xiumin mengedikkan bahunya acuh tak acuh, ia mengambil tempat duduk jauh dariku dan membaringkan tubuhnya dengan jaket yang menutupi wajahnya.
“Aku tak mengenal mereka.”
“Orang-orang yang waktu itu?”
Dia menggelengkan kepalanya. "Saya mampir dan mereka sama sekali tidak mengenali saya."
Sepasang kakiku melompat bangkit, menyambar jaket dan kunci motor sebelum akhirnya aku meninggalkan Xiumin begitu saja.
“Ya! Mau ke mana? Aku baru saja sampai untuk menemanimu, tapi kau malah mau pergi meninggalkanku sendirian?”
“Menyegarkan ala anak muda!”
🥀🥀
Dinginnya tengah malam menjalang pagi menembus kulit wajahku yang masih terasa nyeri, serbuan angin malam itu melesak masuk melalui celah jaket kulit yang menempel sempurna di tubuhku. Tujuanku saat ini hanya satu: meluapkan segala emosi yang aku rasakan.
Deru motor itu mengusik telingaku seiring dengan aku yang memberhentikan kendaraanku disamping keramaian tersebut, tak berselang lama motor milik Xiumin juga terparkir disamping motorku. Aku membuka helm, menghampiri kerumunan itu dan bergabung.
“Aku belum pernah melihatmu sebelumnya?” Seorang perempuan, dengan pakaian berbahan kulit berwarna hitam super seksinya, melenggangkan bokongnya menghampiriku. Sementara perempuan lain yang tak kalah seksi tengah berusaha menggoda Xiumin.
Aku menarik sudut bibirku. “Bagaimana menurutmu permainan mereka?” Aku menunjuk anak-anak motor yang berada jauh di seberang.
Perempuan itu menyentuh rahangku sensual, wangi parfumnya yang tajam menarik libidoku untuk merengkuh pinggang rampingnya. “Eumm.” Dia kelihatan berpikir, sementara aku mencuri satu kecupan didada mulusnya. “Hmmhh, lumay ... yan.” Aku terkekeh geli ketika perempuan itu mendesah dengan begitu mudahnya. Ck, dasar perempuan murahan.
Setelah puas bermain-main dengan bokong perempuan itu, aku mengajak Xiumin meninggalkan mereka begitu saja, menghampiri beberapa orang laki-laki yang aku tebak sebagai pemilik acara.
“Coba tebak siapa yang datang pada kita!”
Aku mempercepat langkahku dengan percaya diri ketika salah satu dari mereka menyadari kehadiranku dan menyambutku; membuat beberapa orang yang tadinya cuek kini mulai memperhatikan.
“Siapa?” Yang lain menyambutku dengan acuh tak acuh.
“Park Chanyeol,” kenalku memperkenalkan diri.
“Xiumin Kim,” ujar Xiumin mengikutiku.
“Jadi?"
“Ayolah, Bobby. Jangan terlalu kaku seperti ini.”
“Kau tahu apa yang paling menakutkan, June? Manusia!”
“Ck, itu lelucon lama, kau tidak berpikir untuk takut dengan bayanganmu sendiri, 'kan?” Pria lain dengan wajah oval tertawa.
“Diamlah Jay, itu tidak lucu.”
“Ehem!” Aku berdeham; benar-benar merasa diabaikan.
“Aku Hanbin.” Atensiku teralih pada pria lain yang terlihat seperti pemimpin mereka. “Ada sesuatu yang membuatmu menghampiri kami?”
Aku mengangguk. “Ayo kita bertanding.” Rata-rata mereka mengernyitkan dahinya mendengar jawabanku. “Hanya untuk bersenang-senang dan menambah teman, aku juga memiliki geng seperti kalian,” ucapku cepat sambil melirik Xiumin; tidak ingin mereka salah paham dan berakhir mengeroyokku. “Kalian tahu EXOplanet? Itu gengku.”
Hanbin menghampiriku dan mengulurkan tangannya. “Kami iKon.”
Aku menjabat tangannya. Tak berselang lama setelah aku dan Hanbin melepaskan tangan, seseorang berwajah tegas yang baru saja selesai balapan berhenti beberapa meter didepan kami, melepas helmnya dan menentengnya menghampiri kami.
“Donghyuk, kita punya teman baru untuk main!” seru June.
“Bukan ide bagus.” Seseorang yang dipanggil Donghyuk itu berjalan menghampiri kami bersama dua orang lainnya. “Di depan sana ada genangan oli yang entah punya siapa, Chanwoo tadi hampir tergelincir jika saja tidak ada Yoonhyung.”
Hanbin menatapku. “Kami sudah terbiasa dengan medan seperti ini, Chanyeol dan Xiumin. Bagaimana dengan kalian berdua?”
Aku mengangguk mantap. “Tidak masalah, aku akan tetap mengalahkan kalian.” Dititik ini jiwa kompetisiku makin meluap.
Lalu kami berpencar, mengambil motor masing-masing sebelum akhirnya berada di area balap. Tidak semua dari iKon ikut, hanya ada Jay dan June, sedangkan empat lainnya aku tak mengenal mereka.
Aku yang berada disisi kiri jalanan menstarter motor berjenis Ninja 250 milikku yang gagah. Fokus utama mataku adalah pada jalanan, namun wanita yang tadi sempat menggodaku itu kini tengah berdiri ditengah jalan dengan bendera hitam-putih tangan kanannya dengan sebuah pistol awal ditangkap lainnya.
“Tiga!”
Roknya yang kelewat mini hingga hampir memperlihatkan celana dalam kuningnya membuat kepalaku pusing, rasanya aku ingin menarik rok itu dari bokongnya dan meremas bokong itu hingga hancur.
“Dua!”
Aku meludah ke samping begitu merasakan kejantananku kembali mengeras. Mataku menoleh ke sekeliling, orang-orang tengah berdiri disepanjang trotoar sambil bersorak sorai.
DORRR!
“Satu!”
Detik di mana perempuan seksi yang hanya memakai bra tipis dan rok pendek super tipis itu melesatkan pelurunya ke langit. Kami semua langsung tancap gas, melawan dinginnya angin malam dengan kecepatan tinggi, seakan tengah dikejar tanah longsor dibelakang hingga membuat kami tak peduli akan kematian tergelincir diatas aspal.
Aku menambah kecepatan motorku, menyalip beberapa motor yang berada didepanku, melakukan gerakan zig-zag untuk mencegah mereka yang ada dibelakang menyalip posisiku.
Didepanku, ada 3 orang yang tengah memimpin jalan: June, 1 orang yang tak kukenal, dan 1 lainnya sejak tadi tak pernah membuka helmnya. Aku menikung posisi June ketika kita melewati tikungan, disaat yang bersamaan seseorang dari arah belakangku juga melakukan hal yang sama denganku.
Aku memelankan laju motor dan membuat orang itu lebih leluasa mengambil jalan didepan ketika orang itu terang-terangan bermain curang dengan mendekatiku dan menendang motorku. Ketika kami melewati tikungan lagi, aku menyalip 2 motor yang ada didepanku, awalnya semua berjalan sesuai rencana hingga keduanya mengapit motorku, masing-masing dari mereka menendang motorku hingga membuatku hampir oleng.
Lalu kelebatan perkataan Donghyuk yang mengatakan bahwa dijalan ini ada oli bocor terngiang di otakku. Seringaian itu tertarik disudut bibir. “Aku pastikan kalian mendapatkan pelajaran kalian.” Aku menambah kecepatan hingga batas maksimal, meninggalkan mereka dibelakang yang mungkin mulai kepanasan.
Ketika aku melihat genangan itu, aku menambah sedikit lagi kecepatan motorku. Genangan itu tepat ditengah jalanan beraspal, panjangnya kira-kira sekitar 20 senti yang berkelap-kelip akibat pantulan sinar bulan dan lampu jalan.
Aku melirik spion, mereka kini ada 4 orang termasuk anak-anak ikon. Ketika aku akan melewati genangan itu, aku membelokkan motorku dan langsung mengambil tempat aman untuk menghindari tabrakan.
Kaki kiriku menahan berat motor ketika aku menoleh karena suara benda jatuh, 1 meter ditempat itu, ada 1 orang yang tergelincir, ia terseret sejauh setengah meter dengan tubuh yang jatuh tak jauh dari motornya. Ketika Jay dan June melewatiku sambil mengklakson, aku langsung meluncur menyusul mereka. Aku tidak bisa melihat orang lain menang.
Aku tidak pernah berpikir bagaimana aku akan mati, termasuk mati disebuah kecelakaan maut dengan tubuh hancur berceceran diaspal dan ditonton banyak orang.
Ketika aku merasakan motor bagian belakangku dihantam dengan kecepatan tinggi oleh motor lain yang tak terkendali, rasanya seperti melayang tanpa beban meski aku tahu setelah ini mungkin aku akan mati. Detik selanjutnya punggungku merasakan hantaman keras trotoar, tubuhku terpental lagi kali ini kepalaku yang menghantam trotoar langsung, disusul dengan motorku yang terbang ke arahku dan menindih kakiku sekuat tenaga.
Aku menarik napas pendek-pendek, dapatku rasakan cairan kental berbau anyir turun dari kepalaku menuju pangkal hidung.
“Aarrghh!” Aku menggeram ketika rasa sakit itu perlahan mulai menjalar, memberi fantasi mengerikan bahwa mungkin saja setelah ini aku akan cacat. Beberapa orang turun dari motor mereka dan berlari menghampiriku dengan wajah panik.
"Panggilkan ambulans!"
June dan yang lainnya membantuku menyingkirkan motor itu dari kakiku yang mungkin remuk.
Ambulans datang tak lama setelah mereka berhasil memapahku.
“Apakah kamu baik-baik saja?” tanya Jay.
Aku hanya menolehnya sekilas dan mengangguk lemah. “Aku tidak baik-baik saja.”
🥀🥀
Aku tidak tertidur sama sekali ketika dokter dan suster sibuk menjahit kakiku padahal mereka sudah memberiku obat bius, yang membuat mataku tetap segar saat itu hanyalah: bagaimana jika aku cacat? Meski itu sebenarnya berlebihan karena tulang kakiku hanya sedikit patah dengan kulit kepala bagian atasku yang mengelupas.
“Seharusnya kami tidak membiarkanmu balapan.”
Aku menggeleng, kaki kiriku saat ini mengenakan gips dan mereka mengangkatnya. “Berkat kalian aku mendapatkan pengalaman baru,” gurauku, “aku tidak akan pernah melupakan kalian.”
“Untung kau tidak langsung mati,” timpal Yoonhyung yang berdiri diujung ranjang.
“Istirahatlah dan cepat sembuh,” ucap Hanbin yang berdiri disampingku sambil menepuk bahuku pelan. “Hari sudah hampir pagi dan kami harus pulang.”
Aku mengangguk. “Terima kasih sudah membantuku.”
“Jangan merepotkan kami lagi lain kali.”
“Maaf, aku tidak janji.”
Ketujuh orang itu satu per satu meninggalkanku sendirian di ruang rawat inap. Setelah memastikan lukaku tidak begitu parah, Xiumin juga langsung pulang karena adik perempuannya menyuruhnya cepat pulang.
Chanwoo yang berada didepan pintu melambaikan tangannya. “Aku pergi, Chanyeol Hyung.”
Setelahnya hanya ada keheningan yang menyelimutiku saat ini, aku menoleh nakas di mana ponselku tergeletak remuk terbelah menjadi dua. Aku menghela napas berat sambil memandangi kaki itu.
Dokter bilang perlu beberapa Minggu agar aku bisa berjalan dengan normal. Lalu pandanganku beralih pada kursi roda dipojok ruangan. Saat ini pukul 4 pagi ketika aku terus berusaha keras memejamkan mata dan pura-pura tidur hingga sebuah suara pintu digeser membuat mataku membuka sempurna.
🥀🥀🥀
