“Jongdae!”
Baekhyun memanggil namaku.
Aku tahu semua orang terkejut begitu mendapatiku berada di tempat ini. Kecuali satu orang, yang tak menyadarinya eksistensiku dan masih tetap asyik dengan urusannya. Karena sudah terlanjur jadi aku paksakan untuk menyapa mereka, “Hi, semua.” Aku berjalan menghampiri mereka dengan senyum mengembang; terpaksa. Mungkin lebih mirip ringisan. Hatiku sakit. Aku tidak akan berbohong dengan mengatakan aku baik-baik saja ketika sumber kebahagiaan itu terang-terangan menyakitiku. “Apa yang akan kalian lakukan?” Aku melirik Chanyeol yang terkejut mendapatiku berada di sini.
“Hei, Jongdae. Tumben datang ke sini, aku tidak menyangka.”
Chanyeol mendorong perempuan dengan pakaian minim itu hingga hampir terjengkang. Kemudian ia berdiri canggung ke arahku, disudut bibirnya terdapat bekas saliva. Chanyeol yang mungkin menyadari bahwa aku memperhatikan bibirnya langsung mengusap bibir itu sembarangan. Semilir angin malam yang dingin semakin menusuk kulit ketika dengan tiba-tiba Lay merangkul pundakku.
“Bengong aja. Duduk, yuk,” ajaknya. Aku tidak memberi respons apa pun pada orang yang telah membawaku ke sini itu. Tetapi, ketika laki-laki kelahiran 7 Oktober itu menyeretku menjauh dari tempat Chanyeol. Aku hanya bisa pasrah mengikutinya. Sedikit melirik Chanyeol kecewa. Sorot mata yang tak pernah dapat aku tafsirkan itu, kini tengah menatap datar padaku.
Harusnya aku kecewa padanya, 'kan? Namun, hati dan otak bodoh ini masih menaruh harapan. Kekuatan cinta dan kepercayaan bisa mengubah seseorang menjadi lebih baik, 'kan? Aku sangat berharap.
“Bodoh sekali, sih?”
Lay mendudukkanku diantara ban bus yang sudah disusun rapi ketika Xiumin memaki Kai.
“Harusnya aku tak meminjamkan motorku padamu, sekarang semuanya sudah terlambat.” Xiumin terduduk lesu dengan mata menatap Kai sengit.
“Aku tidak tahu!” Kai membuat gesture peace dengan kedua telunjuk dan jari tengahnya. Menatap laki-laki bermata monoloid itu menyesal. “Maafkan aku, ya, Hyung?”
“Jangan mudah memberi maaf, nanti orang itu akan mudah mengulangi hal yang sama padamu!” Aku menoleh pada Kyungsoo yang berteriak mengompori. Meringis tertahan dengan perut bergejolak tak nyaman ketika kata-kata itu seakan menyindirku dengan telak.
“Aku setuju dengan Kyungsoo,” sahut Luhan. “Benar, kan, Chanyeol?”
Jantungku seperti berhenti berdetak saat itu juga dengan aliran darah yang tiba-tiba berhenti paksa. Aku berusaha mencari kesibukan dengan menatap sepatuku ketika nama itu melintas di telingaku seperti guntur. Menunggu jawaban dari Chanyeol akan pertanyaan Luhan yang tidak siap untuk kudengar. Namun, hingga tubuhku lemas. Suara laki-laki itu tak kunjung terdengar. Mungkin diam dalam kebisuan lebih baik daripada mengeluarkan sepatah kata, 'kan?
Aku yang penasaran kembali mengangkat kepala. “Hik.”
Ragaku seakan tak lagi ditempatnya ketika sosok itu berdiri menjulang dihadapanku. Wajahnya datar tanpa ekspresi, berbeda sekali dengan sosoknya yang dulu merebut perhatianku. Seharusnya aku sudah sadar sejak melihat sosoknya yang asli dulu, namun tetap saja alam bawah sadarku memaksa untuk menolak segala yang pernah aku lihat.
Aku kembali cegukan ketika pergelangan tanganku Chanyeol cengkeram dengan sangat erat, seakan dia benar-benar menyalurkan segala kekesalannya padaku melalui cengkeraman tersebut. Ia menyeretku pergi dari tempat nongkrongnya, kedua kakiku yang belum siap hampir tersandung, namun Chanyeol sepertinya sadar itu dan dia kian menyeret tanganku. “Aku masih ingin—”
“Bisa diam nggak!”
Tubuh ini berjengkit begitu Chanyeol membentakku. Harusnya aku yang marah, 'kan? Tapi—seharusnya aku yang marah kan melihat pacarku ciuaman dengan orang lain ditempat umum seperti ini! Kalau seandainya ini bukan tempat umum dan banyak orang-orang, apa mereka akan melakukan yang jauh lebih intim lagi! Seharusnya aku yang marah, membentaknya dan menyeretnya pergi dari sini! Seharusnya—
Tidak bisa! Aku tidak bisa melakukan semua hal yang aku pikirkan, semua itu hanya ada didalam pikiranku, seluruh tubuh dan jiwaku sudah dirantai oleh Chanyeol, aku bukan lagi seseorang yang bebas, aku sudah terantai.
Aku mengigit bibir bagian bawahku ketika dengan kasar Chanyeol menyodorkan helm padaku, dia menyuruhku memakainya dalam diam, itu hanya sebuah tatapan tajam ketika dengan sadar aku dapat mengartikan maksudnya. Sebenarnya, Ada banyak hal yang ingin aku katakan padanya. Tetapi, semesta seakan tak ingin memberi izin.
Banyak suara motor bersahutan ditempatku tadi singgah. Kepalaku refleks menoleh, membelalak bingung ketika ada begitu banyak pengendara motor melaju kencang sambil memporak-porandakan tempat itu. Teman-teman Chanyeol yang masih ada di sana hanya berdiam diri dengan tangan terkepal marah, sebagian dari mereka berusaha melawan, entah dengan melayangkan kaki atau tangan, namun mereka selalu meleset.
Aku kembali memekik tertahan ketika dengan tiba-tiba Chanyeol memakaikanku helm yang sejak tadi hanya kupegang, tanpa aba-aba dia menarik tubuhku dan menyuruhku memboncengnya. “Apa yang sebenarnya terjadi?”
“Diam dan ikut saja,” jawab Chanyeol singkat.
Aku memeluk pinggangnya erat dan meletakkan kepalaku bersandar dibahunya begitu motor itu langsung melaju dengan kecepatan tinggi. Tubuhku seakan dibawa melayang, menerpa angin tanpa ampun, semua angin-angin itu seperti masuk kedalam bajuku dan merembes masuk kedalam darah melalui pori-pori. Kedua tanganku meremas bajunya takut dengan mata terpejam erat ketika Chanyeol membawa motornya dengan ugal-ugalan. Tubuhku seakan terbang melayang, berkali-kali terhentak dan itu rasanya sakit sekali apalagi bokongku. Sebisa mungkin aku menahan diri agar tidak mual, ini bukan kali pertama Chanyeol membawaku naik sepeda motornya dengan gila, tapi sialnya aku tetap tidak terbiasa.
Semuanya, didalam kepalaku, saat ini hanya seperti mimpi yang menakutkan di mana otot-otot tanganku dengan ngilu berpegangan atau aku akan jatuh dan mati ditengah jalan akibat dilindas truk.
Di dalam mataku yang terpejam, hanya ada kegelapan dengan berbagai kelebatan random. Lalu, tiba-tiba saja laju dan deru motor yang kunaiki itu memelan. Aku masih betah dalam posisiku saat ini, ini nyaman dan aku tak berniat beranjak hingga sosok yang tengah kupeluk itu menggoyangkan pundaknya risih.
Aku mengangkat kepala. Melihat Chanyeol yang tengah membuka helmnya. Aku mengamati sekitar dengan binggung ketika Chanyeol turun dari motor. Dengan terburu, aku membuka helm dan mengikutinya masuk kedalam, eerrr ... rumahnya.
Tidak ada siapa pun yang tinggal di sini kecuali Chanyeol.
Chanyeol menghidupkan saklar lampu dan berjalan menuju dapur. Aku mengikutinya dalam diam dibelakangnya, ingin bertanya tentang apa yang sebenarnya terjadi pada teman-temannya, tapi tidak dulu! Aku belum memiliki nyali. Hanya ada kesunyian, emm mungkin derap langkah yang dihasilkan derap langkah kami berdua sebagai satu-satunya melodi. Dilain sisi aku penasaran dengan orang-orang yang menyerang perkemahan utama Chanyeol tadi, namun disisi lain ciuman itu masih terbayang olehku, kalau ingat tiba-tiba hatiku jadi nyeri, apalagi melihat wajah yang seakan tak bersalahnya. Mungkin menunggu Chanyeol mengungkit hal itu dulu lebih baik daripada cari perkara—
“Apa yang ingin kamu katakan ketika mengajakku bertemu?”
Aku berjengkit kaget. “Eh?” Pandanganku yang sejak tadi menatap punggungnya tiba-tiba disuguhi dada bidangnya, meski tinggi badan kita berdua terlampau jauh, tapi aku hanya perlu sedikit mendongak untuk melihat wajahnya, yang sialnya tak bisa aku lakukan. Ini terlalu pengecut!
Sebentar, itu benar. Ada yang ingin aku katakan padanya siang tadi, namun semua itu harus tertunda akibat kesalahan pahaman sialan —tunggu! Apa ciuman Chanyeol dengan perempuan tadi juga salah paham? Seperti halnya aku dan Sehun di taman? Tapi bagaimana kalau semuanya terjadi benar?
Aku meringis dengan tangan yang menyentuh perut datarku.
Chanyeol mengernyit. “Kamu lapar, Dae?”
Aku menggeleng dengan senyum tipis. Uh, Chanyeol memanggilku dengan nama kecilku dan itu cukup membuat sudut terdalam hatiku bersorak kegirangan, rasanya kembali ada kupu-kupu raksasa nan banyak tengah bermain-main diperut dan otakku.
Chanyeol membuka isi kulkasnya. Mengeluarkan beberapa bungkus ramyeon dan daging. Dengan inisiatif aku memanaskan air ketika suara yang menjadi kesukaanku setahun ini berujar, “Kau selingkuh dengan sepupumu sendiri?”
Pertanyaan itu seakan menyudutkanku ketika seharusnya aku yang marah di sini!
“Maksudmu, Chan?” tanyaku tak terima. Sudut hatiku mengatakan bahwa Chanyeol tengah merendahkanku, tapi disisi lain aku juga merasa bersalah meskipun aku sepenuhnya sadar itu bukan salahku, semuanya adalah salah Sehun!
Chanyeol menghela napas panjang. “Ada yang ingin kamu jelaskan tentang pelukan dan ciuman tadi siang? Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri!” nada suara Chanyeol meninggi.
“Apa tidak terbalik?” Aku mematikan kompor, berbalik dan menatapnya tajam. Sepasang mata bulat yang biasanya menjadi kesukaanku itu kini kutatap dengan kekesalan. “Aku melihatmu mencium orang lain di Kamp basis! Dihadapan teman-temanmu yang juga aku kenal baik!” aku tak kalah meninggikan suaraku, “dan lagi, apa kamu gila menuduhku selingkuh dengan Sehun? Kamu tahu kita adalah saudara, bagaimana mungkin aku akan melakukan itu dengannya!”
Chanyeol mengusap wajahnya kasar. “Dan kamu menjadikan itu sebuah alasan untuk balas dendam menyelingkuhiku, Kim Jongdae?”
“Aku tidak melakukannya! Aku masih amat sangat menghormati dan mencintaimu!” amarahku meledak. Sudah cukup menjadi orang baiknya. “Harusnya aku yang mengatakan kenapa kamu menyelingkuhiku! Ini bukan yang pertama kali, Park Chanyeol!”
“Dae, kamu tidak mengerti.”
“Apanya yang tidak kumengerti? Memenuhi semua keegoisanmu!”
Chanyeol berjalan melewati bantri yang menjadi penghalang kami berdua. Dengan panik aku melangkah mundur menjauhinya. Namun, kakinya yang panjang dengan mudah menyusulku. Telapak tangannya mencengkram pergelangan tanganku. Sekuat tenaga aku menahan ringisan. Ini bukan yang pertama kalinya kami bertengkar dan Chanyeol selalu bermain fisik!
Aku dapat melihat sorot mata Chanyeol yang berubah memerah marah. Aku sudah cukup terbiasa melihat sosok iblis ini.
Chanyeol mendekatkan wajahnya padaku. Deru napasnya yang memburu begitu jelas terasa menerpa kulit wajahku.
“Aku begitu mencintaimu.” Nada suara Chanyeol melembut. “Tapi kamu selalu mengkangku dalam segala hal!”
Aku refleks melepaskan cengkeraman tangannya dan menutupi gendang telingaku. Memejamkan mata erat; takut. Aku menangis tanpa suara. Dadaku sesak, rasanya sakit sekali ketika orang yang kau cintai meneriakimu penuh kekesalan seperti itu.
“Hei, hei, kenapa menangis?” Intonasi suara itu kembali berubah. Lalu, tubuhku didekapnya dengan erat, seakan aku akan pergi meninggalkannya, sementara kepalaku disembunyikan didada bidangnya. Tangannya mengelus rambutku lembut, bibirnya mengecup keningku beberapa kali. “Maafkan aku tadi, ya?” Chanyeol memohon, sebisa mungkin aku berusaha untuk tidak kembali luluh. “Aku yang salah.”
Aku tidak pernah benar-benar mengerti dirinya.
Aku masih sesenggukan ketika Chanyeol menuntunku masuk kedalam kamarnya. Membawaku kembali kedalam pelukannya dengan posisi berbaring dengan kepalaku yang berbantalkan dadanya. “Aku minta maaf,” ulangnya.
Ini adalah hal yang membuatku masih bertahan. Berharap bahwa kata maaf dan rasa penyesalannya bukan hanya sekadar buih di lautan yang akan selalu dia ulangi setiap saat.
“Aku minta maaf,” lirih Chanyeol. “Perempuan itu ... aku khilaf, aku tidak akan mengulanginya lagi.”
Dua bulan yang lalu kamu juga mengatakan hal yang sama, 'kan?
Tetapi, aku selalu yakin bahwa suatu saat nanti kau akan berubah menjadi sosok yang lebih baik.
Aku mulai menahan napas ketika Chanyeol mulai menciumi ceruk leherku. Napasnya yang hangat membuatku menggelinjang geli. Kecupan itu turun ketulang selangkaku hingga dada.
Aku benci mengatakan ini, tapi ototku akan langsung lemah tak bertenaga setiap kali Chanyeol memberi rangsangan pada tubuhku. Kedua tangan yang aku gunakan untuk mencegah tubuh Chanyeol makin menempel padaku sia-sia belaka. Chanyeol melepas kardiganku, membiarkan tubuh bagian atasku terpampang jelas didepan matanya.
“Aku suka tubuhmu,” puji Chanyeol. “Berapa kali pun aku melihatnya, aku akan tetap memujanya.”
Tapi entah kenapa pujian itu justru bagai pengakuan dosa ditelingaku yang begitu miris. Alih-alih tersipu malu dan membalas ucapan manisnya, aku justru terhina akan tatapan penuh nafsunya yang seakan mencabik-cabik habis setiap jengkal tubuh ini.
Chanyeol mendekatkan wajahnya padaku. Mencium bibirku tanpa permisi, dan dengan bodohnya aku mengizinkan tamu tak sopan ini masuk dan mengobrak-abrik rongga mulutku. Aku memejamkan mata erat sedangkan kedua tanganku sudah melingkar sempurna dileher Chanyeol. Bagian selatan tubuhku mengeras, terlebih ketika milik Chanyeol yang telah mengunduk menyenggol milikku. Membuat kuku jariku memutih akibat terlalu erat kugenggam demi menetralkan gejolak dalam diri.
Kali ini aku tidak akan jatuh padanya, 'kan?
Desahan itu tiba-tiba lolos begitu saja dari bibirku ketika tangan dingin Chanyeol mengusap lembut tubuhku. Tangan kirinya mengusap punggungku sedangkan tangan kanannya bermain dengan puntingku. Dia adalah yang pertama, dia juga yang membuat tubuhku terbiasa dengan semua sentuhan-sentuhan panas yang dulu asing bagiku.
Aku menarik kakiku ketika kurasakan tangan Chanyeol berusaha melepas celanaku. Berusaha membuka mata ketika dengan jelas aku masih berada dipuncak ilusi memabukkan akibat cumbuan sang dewa cinta yang kini mengukungku dibawah keperkasaannya.
Aku menggeleng. “Chan,” senduku. Ini tidak benar. Apa yang selama ini kita lakukan tidaklah benar!
Chanyeol tak menghiraukan tanganku yang mencegahnya meloloskan celana levisku. Dia terbiasa tetap dengan keinginannya tanpa mempedulikan perkataan orang lain.
"Hmm?"
Seluruh tubuhku merinding ketika dalam sekali sentak Chanyeol berhasil melepas celanaku. Membuat tubuhku polos dengan hanya tersisa celana dalam.
“Chanyeol berhenti, ini tidak benar.”
Kilatan amarah itu kembali menyapu matanya. Lalu seringaian itu muncul bersamaan dengan kepalanya yang dia miringkan.
“Jongdae,” panggil Chanyeol dengan suara serak, “kita sudah sering melakukan ini bahkan sejak pertama kali kita berpacaran, tapi kamu baru mengatakan bahwa apa yang kita lakukan itu tidak benar?” Chanyeol terkekeh. “Apa kamu mau jadi munafik dengan mencampakkanku setelah semua kenikmatan yang aku berikan, hmm?”
Entah bagaimana tanganku mendarat mulus dipipi Chanyeol hingga membuat sudut bibir lelaki itu sedikit berdarah dengan pipi bekas telapak tanganku.
Chanyeol memegangi pipinya. Masih tak beranjak dari tempatnya, bibir itu tersenyum kian lebar, menampakkan deretan gigi tapi nan putihnya.
Detak jantungku terpompa hebat hingga bahkan telingaku dapat menangkapnya. Tubuh Chanyeol seakan menjadi hewan buas yang tengah mengukungku.
Aku memejamkan mata erat ketika tangan Chanyeol terayun membalas tamparanku. Satu, dua, tiga, sepuluh. Chanyeol terus menampar kedua pipiku bergantian. Bunyi "plak" dan ringisanku menjadi satu-satunya suara dalam kamar itu. Hingga entah tamparan keberapa ketika Chanyeol memutuskan berhenti, kepalaku terasa sangat pusing. Kedua pipiku terasa kebas dengan panas yang kian lama kian menjalar hingga ke perut.
Pandanganku buram ketika netraku menangkap Chanyeol yang tengah melepas celananya. Tubuhku refleks mundur, namun aku sadar semua itu hanya sia-sia ketika kurasakan sandaran ranjang menyentuh punggungku.
“Aww,” ringisku ketika dengan kasar Chanyeol mencengkeram dan menarik pergelangan tanganku. “Aku ingin pulang.” Aku memohon.
“Iya, Dae. Setelah aku memberimu hukuman atas kenakalanmu.” Suara Chanyeol dalam dan serak. Seakan memberi peringatan padaku bahwa di sini dialah yang berkuasa, dan aku sebagai anak itik tak berdaya sebaiknya menurut jika tidak ingin terbunuh oleh seekor harimau dewasa.
Aku lagi-lagi tidak memiliki keberanian untuk membantah ketika Chanyeol telah diselimuti nafsu, ia menjamah setiap inci tubuhku dengan bringas, mengecup tanpa ampun apa yang telah dicap sebagai miliknya.
Tidak ada yang bisa aku lakukan ketika milik Chanyeol menerobos masuk kedalam diriku selain memejamkan mata dengan lelehan air mata yang membanjiri wajah.
Aku belum siap, dan Chanyeol tidak akan peduli dengan itu.
“Ouh, Dae. Aku beruntung memilikimu, tubuhmu selalu tahu bagaimana cara menyenangkan adik kecilku.” Chanyeol merancau disela kegiatan memaju mundurkan tubuhnya.
Biasanya aku akan selalu tersipu malu setiap kali Chanyeol memujiku, kecuali saat ini. Aku benar-benar telah muak dengan semua yang kami lakukan selama ini!
Tanganku mencengkram sprei erat ketika Chanyeol makin mengerakkan pinggulnya, membuat tubuhku yang ada dibawahnya makin melonjak-lonjak tak karuan. Aku tak lagi dapat menyembunyikan desahan yang sejak awal mati-matian aku tahan. Membiarkan suara menjijikkan itu keluar memenuhi kamar beradu dengan suara milik Chanyeol.
Aku menetralkan napasku sebentar ketika Chanyeol berhenti. Ia memandangi wajahku sejenak dengan pandangan sayu; merasa bersalah. “Maafkan aku.”
Aku tahu kalimat itu jauh terdengar lebih tulus dari yang sebelumnya. Namun, itu tak bertahan lama ketika setelahnya Chanyeol kembali meneruskan kegiatannya; menyetubuhiku. Hahaha, mungkin dunia juga tahu bahwa aku hanya pemuas nafsunya semata?
"Oh, kotoran! Kau menjepitku dengan amat ketat, Sayang!”
Bisa? Hahaha.
“Hmmaaaah.” Aku sepenuhnya sadar. Tubuhku dan tubuh Chanyeol bergetar secara bersamaan, kami mendapatkan pelepasan kami bersama. Deru napasku dan napas Chanyeol yang tak beraturan berangsur-angsur memelan. Aku dapat melihatnya tersenyum sebelum akhirnya ambruk menimpa tubuhku. Dia merengkuhku, pelan, dan lembut. Seakan tak ingin menyakitiku.
“Aku tahu aku salah,” bisik Chanyeol tiba-tiba, “jadi tolong maafkan aku, Dae. Lupakan pertengkaran kita tadi.” Chanyeol menyentuh kedua pipiku lembut, mengecupnya pelan dengan deru napasnya yang hangat menerpa kulitku. “Aku akan menyembuhkan luka yang aku torehkan.”
Aku menatap wajahnya yang begitu dekat denganku. Mengusap surai hitamnya penuh kasih sayang. “Kamu selalu berjanji.” dan tidak pernah menempatinya.
Chanyeol menggeleng. “Kamu selalu memberiku kesempatan, tolong beri aku kesempatan itu lagi.” Dia menyembunyikan wajahnya diceruk leherku, menghirupnya dalam dan kembali mengembuskan napas hangatnya.
Aku menurunkan tanganku. Membiarkannya kehilangan. “Stoknya mungkin habis,” jujurku, “pabrik belum memberi persediaan lagi.”
“Apa ada yang bisa aku lakukan agar pabrik kesabaranmu memberi memperlengkapi?" Chanyeol mengangkat wajahnya; menatapku lekat.
Dadaku berdebar. Apakah ini waktunya?
Sepasang iris cokelat Chanyeol seakan memberiku keyakinan.
Aku mendorongnya dari tubuhku. Awalnya Chanyeol menolak, tapi aku tetap memaksanya. Aku bisa melihat seluruh tubuh polos berkeringatnya yang saat ini tengah duduk bersila. Aku mengambil tangannya dan mengarahkan ke perut datarku.
Dahi Chanyeol mengernyit binggung. “Kamu ternyata lapar?” tanyanya ketika perutku berbunyi. “Kenapa tidak bilang dari tadi? Jangan-jangan yang kemarin kamu juga melewatkan waktu makan mi, Dae?”
Aku meringis. Sialan!
Aku menggeleng pelan. Kentara sekali bahwa wajahku memerah kesal sekaligus malu.
“Lalu?”
“Aku hamil.” Itu hanya bisikan lirih ketika dengan refleks Chanyeol menarik tangannya dari perutku.
Sesaat atmosfer dalam kamar itu berubah hampa. Ekspresi Chanyeol yang tak menunjukkan apa pun membuat perutku seakan teraduk.
Apakah keputusanku sudah tepat?
Namun ketika senyum lebar itu menghiasi wajahnya entah kebahagiaan itu datang dari mana, seluruh rongga dadaku seakan terisi oksigen, aku sempat berpikir bahwa mungkin kami akan memiliki kebahagiaan dengan cara yang unik.
“Apakah—”
"Kalau begitu, lupakan saja."
🥀🥀🥀
