Maaf, tapi tidak menyesal.

Bab 4 🥀

“Di mana Paman Kim?”

“Paman Kim dan Bibi Oh tengah pulang kampung, tuh.”

“Lalu di mana Jongdae? Kenapa kamu bisa ada di sini?”

“Ck, kalau tidak ada yang penting sebaiknya kamu pergi dari sini. Dan untuk kehadiranku di sini, itu karena Paman Kim sendiri yang memintaku untuk menjaga Jongdae, paham?”

“Ah, begitu rupanya? Aku ke sini untuk mengembalikan buku yang aku pinjam pada Jongdae. Omong-omong, Jongdae di mana? Aku ingin bertemu dengannya.”

“Dia sedang istirahat— Aish, kau tidak perlu masuk, pergilah ke sana! Diam, diam.”

“Aku sepupunya, aku berhak bertemu dengan Jongda—”

KEKURANGAN!

Semuanya masih terlihat gelap ketika telingaku samar-samar mendengar orang berbicara diluar lalu suara pintu yang dibanting dengan kencang, kemudian disusul dengan suara langkah kaki seseorang yang menaiki tangga; menuju ke tempatku.

Aku berusaha membuka mata, namun mataku seakan dilapisi lem, sangat susah untuk terbuka hingga rasanya seperti ketindihan. Seluruh tubuhku juga tak bisa digerakkan seberapa besar pun aku berusaha, tidak ada yang bisaku lakukan selain bernapas.

Seseorang? Entah siapa, membuka pintu didalam ruangan tempatku saat ini—aroma kasur yang kutiduri familier— berjalan perlahan ke arahku. Dia mengambil tempat duduk disisi lain ranjang, keningku merasakan sapuan tangan, dia mengelus rambutku, mengecupnya perlahan lalu turun pada pipi sebelah kiriku.

Kehadirannya seperti tak asing meski aku lupa dia siapa. Kecupan itu terjadi sangat lama hingga aku sempat berpikir bibirnya terkena lem dipipiku. Napasnya yang hangat mengenai kulit wajahku membuat kelopak mataku semakin tak ingin terbuka, takut jika aku membuka mata ia akan pergi meninggalkanku, atau kemungkinan-kemungkinan lain yang terlintas dipikiranku dan sialnya hampir sebagian besar kemungkinan itu adalah kemungkinan buruk. Alam bawah sadarku mengatakan bahwa sosok tak asing itu adalah rumah yang nyaman.

Lalu aku menahan napas ketika tekstur basah dan kenyal bibirnya mulai menjauh dari wajahku. Kesal sekaligus merasa tenang begitu pergerakan itu seperti akan meninggalkanku sendiri—

“Ini yang terbaik untuk kita.”

Seluruh tubuhku menegang, sementara jantungku berdetak tak karuan. Telingaku seperti mengenal suara ini, namun aku lupa siapa, otakku diperas, dipaksa mengingat akan sosoknya, namun percuma! Ketika akhirnya aku menyerah untuk mengingatkannya, aku merasakan sebuah jarum menembus kulit lenganku, setelah cairan itu sepenuhnya sudah masuk kedalam tubuhku, sebuah pelukan itu hadir dengan lembut.

🥀🥀


“Kamu mau ke mana?”

Aku mengecilkan volume televisi ketika melihat Chanyeol memakai jaket dan mengambil kunci motornya. Jam pada dinding rumah menunjukkan pukul 7 malam ketika beberapa jam yang lalu aku terbangun dengan tubuh polos, sendirian, dengan sekujur tubuhku yang nyaris mati rasa.

Sekarang aku tengah memakan bubur yang Chanyeol buat di ruang tengah. Dia mengatakan bahwa Ayah dan Ibuku tengah pulang ke Siheung— kampung halamanku—kemarin malam ketika aku menginap dirumahnya. Mereka meneleponku, namun Chanyeol yang mengangkatnya. Lalu sekarang aku berakhir dititipkan pada orang yang saat ini sangat ingin aku hindari. Jadi nikmat apa lagi yang harus aku syukuri ketika semua kesialan itu tengah mengurungku dan membekukan hatiku bersamanya?

“Aku meninggalkan mereka dalam keadaan kacau,” jawab Chanyeol. Mengingatkanku akan apa yang terjadi ketika dia membawaku ke rumahnya. “Kyungsoo terluka parah hingga harus dirawat di rumah sakit,” infonya. Sementara dia tak menoleh sedikitpun padaku dan fokus pada ponselnya, aku pun mengalihkannya pandanganku darinya pada apa pun yang bisa aku tatap. “Aku akan pergi sebentar menjenguknya—”

“Aku ikut!” Aku melompat dari atas sofa, membiarkan piring bubur itu tergeletak begitu saja diatas meja. “Aku memang tidak terlalu dekat dengan Kyungsoo karena sifatnya yang dingin dan tidak mudah menerima orang baru, namun aku jugu memiliki kenangan menyenangkan dengannya.” Itu hanya alasan, aku hanya ingin mengikutinya, siapa tahu saja kan Chanyeol berbohong dan malah akan menemui selingkuhannya?

Chanyeol menghampiriku— aku sempat menahan napas ketika mencium bau parfumnya—membungkukkan badan lalu meraih kepalaku untuk mencium keningku. “Tidak perlu,” finalnya. Sementara aku ditelan kekecewaan, aku beranjak untuk mengambil piring bubur tadi dan mengaduk-aduknya kesal sebagai ungkapan kegelisahan.

“Aku pergi sebentar, jaga dirimu baik-baik,” pesan Chanyeol diambang pintu, “kau bisa menghubungiku jika ada sesuatu,” katanya untuk yang terakhir kali sebelum benar-benar menghilang dibalik pintu.

Aku mengangguk mengiyakan, tahu meski itu tak akan dilihatnya, entah mengapa lidahku membisu. Kesal, marah, benci, cinta, rindu, manja, khawatir, tekad, takut, dan gelisah menjadi satu. Secara sadar, aku sendiri pun tak tahu apa yang sebenarnya benar-benar tengah aku butuhkan, rasanya seperti tenggelam dalam rawa labirin, di mana pada tiap dinding labirin terdapat ular berbisa yang kapan saja siap memangsaku hidup-hidup.

Setelah Chanyeol menghilang dibalik pintu. Bunyi suara motor terdengar, lalu perlahan-lahan menjauh. Aku menaikkan volume televisi untuk memecah hening. Pikiranku kembali kosong dengan bubur dipiringku yang tinggal tersisa setengah. Meletakkan piring itu pada meja dihadapanku, lalu beranjak mencari ponsel. Seharusnya aku kabur kala seseorang yang menjadi ancaman dalam hidupku tengah pergi, membiarkannya tanpa pengawasan, Chanyeol terlalu ceroboh. Atau dia yang menganggapku terlalu bodoh hingga untuk kabur saja tak tahu caranya?

“Aku harus menelepon seseorang.” Aku tidak tahu apa itu, tapi hati dan otakku kompak mengatakan bahwa Chanyeol telah memasukkan sesuatu kedalam tubuhku—waktu itu! Seharusnya aku dapat bangun dan bukannya malah pasrah seperti waktu itu! Bodoh! Bodoh! Bodoh! Karena mungkin saja itu adalah esuatu yang dapat membahayakan janinku!

Obat-obat itu! Rasa sakit pada lengan kananku! Sejak benda itu masuk, tubuhku terasa lebih lemas, aku paham ada sesuatu yang tidak beres. Meski Chanyeol adalah orang yang sering mengingkarinya janjinya—itu pengalaman selama aku mengenalnya sebagai kekasihnya —, tapi dia sebenarnya adalah orang yang akan benar-benar melakukan apa yang sudah dia ucapkan.

“Siapa yang harus aku hubungi?” Aku mengigit bibir bawahku binggung. Ponsel itu kini sudah ditanganku— sejak pagi ternyata dia ada di meja dapur, huh!

Layar aplikasi KaKaoTalk itu hanya menampilkan chat dari kontak Chanyeol, Ibu, grup kelas, dan .... “Sehun!” Aku tidak tahu apakah dia akan membantu, tapi jariku langsung meluncur menekan tombol panggilan. Karena dari semua opsi, hanya Sehun lah yang dapat membantuku tanpa menghakimiku.

Aku kembali mengigit bibir bagian bawahku tak sabaran. Binggung harus mengatakan apa nanti, dan mengapa alasan tepat aku meminta tolong padanya! Rumah Sehun berada di komplek lain, setidaknya butuh 30 menit untuk sampai di sini dengan sebuah kendaraan pribadi.

“Hey, apa kabar? Rindu? Tumben menghubungiku?” sapa Sehun dari seberang sana setelah sambungan telepon diterimanya.

“Ka.u sedang apa?” Aku berlari menuju ruang tengah ketika mendengar suara motor lewat. Mengembuskan napas lega ketika itu adalah suara motor tetangga sebelah dan bukannya suara motor Chanyeol seperti yang aku takutkan.

“Belajar,” jawab Sehun terdengar malas, “kamu tahu? Bibimu yang sok awet muda itu mengancamku untuk tidak pacaran sebelum mendapatkan nilai A ! Ah, kalau begini bisa-bisa aku jadi perjaka tua, pokoknya kalau itu benar terjadi kamu harus mau bertanggungjawab.”

"Kenapa aku yang harus bertanggung jawab? Aku tidak melakukan apa pun," kataku kesal, tak mampu berpikir jernih.

“Ya, karena aku menyukaimu.”

“Sehum, sadar. Kita ini saudara sepupu.”

“Mengapa kamu meneleponku malam-malam begini, Dae-ya? Kalau kamu menelepon hanya untuk mengingatkan itu, sebaiknya aku tutup, aku harus belajar.” Suara Sehun terdengar tidak bersahabat, berbeda sekali dengan yang sebelumnya.

Aku menghela napas, sadar betul bagaimana perasaan Sehun sejak aku tolak. Itu sudah bertahun-tahun lalu, jauh sebelum aku bertemu dengan Chanyeol, mungkin sekitar 15 tahun lalu? Waktu itu masih kanak-kanak yang akan menangis kalau tersandung, tapi Sehun yang genius sudah berpikir akan menikah dengan siapa kala besar nanti. Tentu saja aku tolak ucapan bodohnya. “Maaf,” cicitku. “Apa aku boleh menginap dirumahmu—”

Tentu saja bisa!

Aku menjauhkan ponsel dari telinga dengan kaget ketika tiba-tiba Sehun memotong ucapanku dengan sangat bersemangat. Lalu, pelan-pelan aku kembali menempelkan telepon itu ditelinga.

“Kapan?” tanya Sehun antusias, didetik yang sama ketika aku mulai kembali merasa pusing.

“Sekarang,” balasku lirih, “apa kamu bisa menjemputku di rumah?”

“Tentu saja aku bisa—”

Ponselnya jatuh, juga tubuhku yang ambruk menimpa sandaran tangan sofa. Ponsel itu masih menyala ketika suara Sehun terdengar khawatir. “Jongdae, kamu tak apa?” Pandanganku kabur sementara suara Sehun masihlah terdengar panik. “Hei, jawab aku?” Aku berusaha meraih ponselnya, namun sulit sekali. “Apa ada sesuatu yang terjadi padamu? Katakan kamu tengah bercanda, Dae?”

Aku masih berusaha meraih ponsel yang terlempar dua langkah dari tubuhku. Mataku berair ketika rasa nyeri diperut yang datang tiba-tiba itu semakin kuat, membuatku tidak bisa berpikir jernih. Napasku mulai tersenggal. Layar itu mati—Sehun mematikan teleponnya. Setelah itu layar kembali menyala, Sehun mengalihkan panggilan menjadi panggilan video.

Sekuat tenaga aku berusaha duduk—mengesot untuk meraih ponsel itu. Bulir keringat sebesar biji jagung lolos dari dahiku. Ponsel itu kembali mati, tak lama setelah itu menyala lagi, masih dengan menampilkan nama penelpon yang sama.

Klik!

"Apakah kamu baik-baik saja, Dae?"

Aku dapat melihat raut khawatir yang terpancar diwajahnya.

“Astaga, Jongdae. Apa yang terjadi denganmu? Kamu begitu pucat?”

Benarkah?

Bibirku tiba-tiba kelu, rasa nyeri itu menyakiti seluruh tubuhku. Aku menjatuhkan ponsel itu lagi. Suara Sehun tidak lagi terdengar jelas ditelingaku, pandangan disekitar begitu buruk, sampai rasanya aku berpikir aku akan buta atau parah-parah mati muda.

Ponsel itu masih menyala ketika aku berucap, “Jemput aku sebelum Chanyeol kembali.”

🥀🥀


Aku tidak tahu berapa lama aku pingsan. Tapi yang jelas televisi masih menyala dan diluar masihlah gelap. Kulitku yang hanya terbalut kaus kuning pendek dengan jelana bahan selutut harus terkena imbas dinginnya lantai di penghujung musim dingin.

Suara motor menyapa indera pendengaranku. Tubuhku langsung menegang, namun itu hanya berlangsung sebentar ketika aku mulai mengingat bahwa itu adalah suara motor Sehun; bukan Chanyeol. Senyumku mengembang, akhirnya aku akan bebas, rasa nyeri diperutku itu masih tinggal ketika aku bangun dan meraih kenop pintu terburu-buru. “Sehu ... n.”

“Sudah menunggu lama, ya?” Dia tersenyum lebar hingga membuat sepasang matanya menyipit. Berbanding terbalik dengan senyumku yang seketika redup.

Kakiku refleks melangkah mundur. Ekor mataku terfokus pada sosok laki-laki ditangannya yang setengah sadar dengan luka memar dihampir seluruh wajar serta tubuhnya. Dia melangkah maju dengan menyeret laki-laki itu, membuatku secara tak sadar melangkah mundur demi menghindarinya.

Menggunakan!

“Sehun!” teriakku sambil menutup mulut ketika Chanyeol melemparkan tubuh Sehun kehadapanku. Aku menatap Sehun dengan mata membelalak, sekujur tubuhku bergetar hebat.

Chanyeol melangkah mendekatiku. Meski pun aku begitu ingin, tapi kali ini kakiku tak mampu bergerak. Chanyeol memeluk tubuhku kembali. Ia mengembuskan napasnya ditekukku.

“Lain kali jika ingin mengundang seseorang ke rumah, kamu harus memberitahuku dulu, oke?” Chanyeol berbisik. “Aku tidak ingin kamu terluka karena orang asing.” Aku memejamkan mata erat. Seluruh tubuhku kaku sejak Chanyeol memelukku, rasanya saat ini aku benar-benar akan mati ditangannya. “Kim Jongdae,” panggil Chanyeol lembut. “Kmuu ....” Pelukan itu mengendur. Ia membawaku menatap maniknya. Setelahnya sepasang tangan Chanyeol mendorong bahuku hingga aku terjengkang. Aku meringis ketika punggungku terbentur anak tangga. Ekor mataku menatap Chanyeol yang sudah diselimuti amarah.

Ia berjongkok dihadapanku. Ujung telunjuknya menunjuk Sehun yang kini tengah tak sadarkan diri dengan tangannya yang lain yang memegang kepalaku— yang hanya sebesar telapak tangannya— dan diarahkan pada tubuh Sehun. “Dia tiba-tiba menghampiriku dipinggir jalan dan langsung menghajarku, hahaha! Bodoh sekali.” tawa Chanyeol memenuhi seisi ruangan.

Meninggalkanku sendirian dalam cengkeramannya.

“Dia memaki-makiku dengan mengatakan tak becus merawatmu dan meninggalkanmu yang tengah sakit,” desis Chanyeol tepat didepan wajahku. Pancaran mata yang tadinya berapi-api itu kini berubah kecewa. “Kenapa kamu menghubungi laki-laki lain ketika kamu sudah memilikiku, Dae?”

Aku menggeleng kuat dengan bibir bergetar ketika lagi-lagi tangan besar Chanyeol memukul pipiku. Rasa pusing kembali menghantam dengan lebih kuat bersamaan dengan rasa perih dan asin ketika aku tak sengaja menelan darah yang sudut bibirku keluarkan. Chanyeol mencengkram kedua pundakku dan membawaku berdiri. “Ikut aku!”

Chanyeol menyeretku ke atas di mana kamarku berada. Melemparkanku dengan kasar diatas kasur. Melucuti seluruh pakaianku, dan setelahnya. Lagi-lagi dia menyetubuhi. Tidak ada kenikmatan atau perlawanan seperti yang biasa aku lakukan.

Aku menerima semua perlakuannya dengan pasrah. Tubuhku yang sejak awal tak baik-baik saja semakin remuk ketika selama berjam-jam Chanyeol melakukannya. Yang bisa aku lakukan hanya mempertahankan kesadaran dan melindungi perut datarku dari tangan besinya. Meski pun setelah ini aku akan mati, tapi ini lebih baik daripada aku semakin tersiksa atas pilihanku sendiri. Karena mati ditangan orang yang aku cinta lebih baik daripada aku harus mati ditangan orang yang aku benci.

Park Chanyeol. Ini mungkin hanya isi hatiku yang dapat mendengarnya, malaikat atau iblis pun mungkin tak dapat menyampaikannya pada otak keras sepalamu, tapi satu yang harus kamu tahu bahwa aku mencintaimu, dan bahwa aku membenci diriku sendiri.

Lelehan air mata terus menggenangi pipi setiap kali Chanyeol memasukkan miliknya ke dalam diriku dengan semua desahan dan kalimat menjijikkan yang mulutku dan mulutnya keluarkan.

🥀🥀

Napasku gelagapan ketika kurasakan seember air menguyur wajahku. Samar-samar aku mendengar suara Ibu menangis dan Ayah memakiku.

“Aku merawatmu dengan rasa hormat dan menjunjung tinggi norma agama, tapi apa yang malah kau perbuat, Kim Jongdae!”

Aku terduduk dengan pinggul nyeri, bahkan perutku masih meninggalkan rasa nyeri itu ditubuhku, juga bau aneh yang langsung menyeruap indera penciumanku begitu aku terbangun.

Aku tidak tahu betul apa yang tengah terjadi meski samar rasa takut itu mulai menyelimuti ketika melihat wajah kedua orang tuaku yang terlihat amat marah bercampur kecewa.

Plak!

Jantungku hampir berhenti berdetak ketika Ayah menamparku, ini pertama kalinya Ayah melakukannya. Apa yang sudah aku lakukan jika membuat mereka yang lemah lembut dan penuh rasa kasih sayang itu sampai semurka ini?

Ekspresi itu jelas menunjukkan kemarahan hebat. Aku menyentuh pipiku gemetar, kedua mataku turun ke bawah tubuhku yang polos, dengan refleks aku merapatkan kakiku. Kepalaku menoleh ke samping tempat tidur, begitu aku melihat sosok laki-laki yang tengah tidur dengan tubuh telanjang disampingku,  dengan histeris aku menoleh pada Ayah dan Ibu, menggeleng sekuat tenaga, mengatakan tanpa suara bahwa apa yang mereka lihat tidak seperti apa yang sebenarnya terjadi.

Ini bukan seperti yang terlihat!

“Hiks, Ibu benar-benar kecewa denganmu, Jongdae,” Ibu berujar lirih.

Ayah pergi meninggalkan kamar setelah membanting pintu hingga membuatku dan Ibu berjengkit kagwt. Aku melirik Ibu yang memunguti bajuku, wanita yang telah melahirkanku itu melempar baju itu tepat mengenai wajahku. “Bangunkan dia dan temui kami di bawah!”

Dan Ibu pun juga pergi meninggalkanku.

Aku lagi-lagi hanya bisa menangis. Memakai pakaianku dalam diam. Aku melirik sendu laki-laki full naked yang masih tertidur disampingku dengan posisi menelungkup itu. Aku belum mengatakan yang sejujurnya, tapi aku sudah membuat mereka kecewa. Jadi setelah nanti aku mengatakannya, hukuman apa yang pantas anak durhaka sepertiku terima? Hukuman apa yang sanggup menembus semua dosa yang aku perbuat selama ini?

Aku menggoyangkan bahunya pelan. “Sehun, bangun.”

🥀🥀


Seperti dugaanku, Sehun sangat terkejut dan berulang kali bersumpah bahwa dia tidak pernah menodaiku.

“Bagaimana kami bisa percaya dengan dalih itu sementara kami melihat dengan mata kepala kami sendiri apa yang sudah kalian lakukan?” Sedari tadi Ayah sudah bersungut-sungut. Aku bahkan mendengar bahwa Ayah juga sudah menelepon orang tua Sehun yang berada di Eropa untuk segera pulang ke Korea Selatan.

Tatapan mata mereka begitu terluka, terutama Ibu yang baru bisa berhenti terisak. Sekuat mungkin, aku tidak ingin menangis dihadapan mereka. Meski aku tak menyangkal bahwa aku pantas dihakimi di sini, tapi ini semua bukan salah Sehun, dia sama sekali tak tahu apa-apa. Bukan dia laki-laki yang seharusnya dihajar oleh Ayah.

Sehun yang masih bersujud dibawah kaki Ibu dan Ayah yang tengah duduk dikursi mendongakkan kepalanya. “Paman, aku begitu menyayangi Jongdae seperti kakakku sendiri, aku tidak mungkin dan aku berani bersumpah dihadapan Tahun bahwa aku tidak pernah melakukan hal senista itu pada sepupuku sendiri!”

Appa!

Aku dan Ibu memekik ketika Ayah menendang kepala Sehun hingga membuatnya tersungkur. Wajah Sehun yang habis dipukuli Chanyeol tadi malam bahkan belum sempat diobati.

“Awalnya,” ucap Ayah menahan amarah, “awalnya aku pikir si bajingan yang sudah berani menghamili Jongdae itu adalah Chanyeol!”

Mataku melotot. Bagaimana Ayah bisa tahu?

“Tapi ternyata si bajingan itu adalah orang yang sudahku anggap anakku sendiri!”

Appa aku—”

“Diam kau anak, Sialan!”

Tubuhku lagi-lagi bergetar, Ayah tidak pernah membentakku. Ayah menatap Sehun nyalang. Aku menelan saliva kasar ketika dengan berani Sehun balas menatap Ayah dan bangkit dari posisi bersimpuh yang sudah dua jam lalu kita lakukan.

Sehun mengembuskan napasnya pelan. “Paman tolong dengarkan aku.” Sehun menyentuh pundakku dan membantuku untuk berdiri.

Ayah mendengus. “Tidak ada yang perlu aku dengarkan!”

“Aku bisa menjelaskan semua krologinya, tapi yang terpenting saat ini kita harus pergi ke rumah sakit,” ucap Sehun tenang. Jujur aku tidak mengerti akan maksudnya. “Si brandal Chanyeol itu telah memasukkan sesuatu ke dalam tubuh Jongdae.”

Seluruh tubuhku menegang. Dahi Ayah berkerut sedangkan Ibu menutup mulutnya tidak percaya. “Jangan berani-berani mencari alasan untuk bisa kabur!” murka Ayah. “Kalian sudah merusak harga diri keluarga Kim!”

Aku memejamkan mata. Tidak tahu sekarang pukul berapa, namun sejak bangun tadi tubuhku sudah terasa lemas melebihi semalam. Aku sempat binggung dan menoleh pada Sehun ketika dia menggenggam tanganku erat.

“Aku akan bertanggung jawab menikahi Jongdae jika kalian mengizinkanku, tapi sebelum itu, ayo pergi ke rumah sakit.”

🥀🥀🥀