🥀🥀🥀
Sudut Pandang 1 Park Chanyeol


🥀🥀🥀🥀
"Aku akan bertanggung jawab menikahi Jongdae jika kalian mengizinkanku, tapi sebelum itu, ayo pergi ke rumah sakit."
Apakah dia mabuk?
Seorang pengecut yang selalu berlindung dibawah bulu ketiak sang ibu? Sekarang dengan soknya ingin merebut Jongdae dariku!
Plastik berisi makanan cepat saji itu masih panas ketika aku meremasnya hingga hancur lalu melemparnya begitu saja kesembarang arah; sebagai bentuk kekesalan. Otak dan seluruh tubuhku rasanya mendidih, tidak ingin menunda waktu menghajar Oh Sehun ketika sosok itu kini bisa dengan mudah aku seret ketengah jalan. Memukulinya hingga babak belur, meninggalkannya sendirian dalam keadaan pingsan ditengah jalan sambil menunggu truk melindas habis tubuh sialannya sampai mati!
Aku meninju pipi kiriku sendiri; untuk menyadarkan diri. Aku tidak bisa bertingkah gegabah seperti ini, itu hanya akan menyulitkan posisiku.
Aku memandang Sehun yang tengah merangkul pundak Jongdae. Tidak ada komentar apa pun dari orang tua Jongdae, begitu pun dengan Jongdae sendiri. Hah, apa dia akan semudah itu melupakanku? Setelah semua yang kita lakukan dan lewati? Seharusnya aku sudah bisa menebak, melihat bagaimana tingkah mereka selama ini dibelakangku. Jadi benar selama ini mereka selingkuh?
Baik, aku akan pergi!
Untuk apa aku tetap disisi orang yang sudah mencampakkanku demi laki-laki lain? Bodoh!
Mengambil langkah lebar, aku beranjak dari persembunyianku di mana aku sejak tadi menguping pembicaraan orang tua Jongdae dengan Sehun.
"Tidak. Apa yang kamu bicarakan?"
Suara Jongdae memecah hening setelah suara tamparan cukup keras terdengar, disusul dengan desisan seseorang, dan reaksi keterkejutan Paman Kim dan Bibi Oh. Langkahku seketika terdiam, bibir ini melengkungkan senyum miring dengan kepala tertunduk. Lalu, dengan sadar aku kembali ketempat di mana sejak tadi aku menguping pembicaraan sialan mereka.
Aku menarik napas ketika ekspresi wajah Jongdae terlihat memerah marah. Menyedekapkan tangan dengan kaki menyilang dan bahu kiri bersandar pada tembok. Bagus, ini akan jadi lebih menarik.
"Sehun, aku minta maaf," sesal Jongdae.
"Ini bukan masalah serius, tenanglah," jawab Sehun sambil meringis.
Namun, Jongdae tetap berusaha menyentuh robekan mulut Sehun akibat ulahku semalam yang kini makin parah berkat tamparannya.
"Aku tidak bermaksud melukaimu, tapi kenapa kamu mau melakukan ini padaku?" Jongdae menatap Sehun, lalu beralih pada orang tuanya. "Appa, Eomma, tolong jangan dengarkan kata-kata Sehun, ya? Dia hanya tengah berbohong."
"Dae, apa yang kau katakan? Kau ingin masa depanmu semakin suram, begitu?" marah Paman Kim.
"Bukan itu yang ingin aku katakan, Ayah," jawab Jongdae. "Tapi—"
"Lalu? Kau ingin makin membuat wajahku tercoreng akibat tingkah jalangmu itu? Kalau begitu, bunuh saja janin didalam perutmu itu—"
"Appa!" Jongdae membentak ayahnya. Dadanya naik turun menahan gejolak dalam batinnya.
“Dae, cukup,” relai Sehun halus. Membuat ketiga anggota keluarga itu menatap dirinya dengan pandangan berbeda-beda.
Tubuhku menegak ketika tangan Sehun meraih tangan Jongdae. Si sialan itu menatap Jongdae lekat, sedikit menundukkan kepala untuk meraih manik Jongdae yang memiliki tinggi lebih pendek darinya. Aku mengeram tertahan ketika telingaku tak bisa mendengar bisikan yang Sehun berikan pada Jongdae. Namun yang jelas, setelah itu Jongdae hanya menggeleng dengan mata terpejam erat.
"Aku tidak mungkin melakukan itu!" seru Jongdae. Membuatku memiringkan kepala penasaran.
“Kau ingin mempertahankannya, 'kan?" yakin Sehun.
Jongdae melihat ke arah kedua orang tuanya bimbang. Lalu kembali menatap Sehun. “Bagaimana dengan Chanyeol?” Meski hanya samar, aku dapat mendengar namaku disebut kali ini. Uh, jadi apa yang Si Sialan itu bisikkan? Aku benar-benar tidak bisa membendung rasa penasaranku!
“Untuk apa memikirkannya ketika dia bahkan tidak memikirkanmu?”
Mataku memejam kesal. Apa-apaan Oh Sehun itu, aku selalu memikirkan Jongdae disetiap aliran darahku!
Sehun menangkap kedua belah pipi Jongdae. “Kamu harus memilih salah satu,” ujarnya, “salah satu atau tidak sama sekali.”
“Hei, kalian tengah membicarakan apa?” kesal Paman Kim ketika kedua remaja itu justru mengabaikannya.
“Paman, apa aku boleh membawa Jongdae pergi sebentar? Ada sesuatu yang sangat penting yang harus kami bicarakan mengenai hal ini.”
Orang tua yang suka mengintimidasi dan terang-terangan tak menyukaiku itu menghela napas dalam. “Baiklah, jaga anakku baik-baik.”
Sehun membungkuk dalam—cih, pencitraan sekali. “Terima kasih banyak.”
"Hmm."
Sehun mengandeng pergelangan tangan Jongdae, aku langsung mencari tempat sembunyi ketika mereka berdua berjalan ke arahku—pot besar berisi pohon bunga kaktus—dan menyembunyikan tubuh besarku dibaliknya.
“Kamu akan membawaku keman—eh, ada apa?” tanya Jongdae binggung ketika dia mengambil jalan dihadapanku yang langsung ditarik oleh Sehun ke sebelah sisi yang berlawanan.
“Tidak ada,” jawab Sehun dengan mata yang terarah padaku, “aku hanya ingin memelukmu seperti ini,” lanjutnya sambil mendekap erat tubuh Jongdae dengan menyandarkan kepalanya di bahu Jongdae.
Sialan! Jadi selama ini si bajingan ini tahu aku bersembunyi di sini? Sepertinya seorang pengecut? Seharunya kemarin malam aku membunuhnya saja!
Mataku yang memanas tak henti menatap punggung mereka yang semakin menjauh, daun telinga serta otakku rasanya mengepulkan cerobong asap. Tanganku mengepal kuat dengan gigi bergemeletuk, aku menonjok tembok dibelakangku hingga berbunyi "duk". Membuat napasku yang tadi sesak cukup lega meski terlihat memburu seperti serigala liar.
“Chanyeol, apa yang kau lakukan di sana?”
Itu adalah suara Bibi Oh.
🥀🥀
Setelah kejadian Bibi Kim mempergokiku tengah bersembunyi dibalik tanamannya dan aku langsung melengos begitu saja tanpa mengatakan sepatah kata pun, aku belum memiliki nyali untuk menemui Jongdae kembali.
“Murung aja, galau?” Aku menoleh pada Kris yang tiba-tiba duduk disampingku. “Makanya jangan suka main sama yang lain, kena batunya juga, 'kan,” sindirnya. Membuat mulutku mendecih dengan tatapan malas.
Tanpa repot-repot meladeni orang itu. Aku kembali fokus menatap ruang obrolanku dengan Jongdae. Beberapa pesan aku kirim sejak semalam, namun hingga saat ini belum ada balasan, bahkan aku ragu apakah dia sudah membacanya.
“Geser.” Aku menoleh pada Kai yang menyenggol sepasang kakiku yang berbalut jeans putih; menurunkannya dari sandaran sofa buntut yang lebih tua dari usia buyutnya Suho.
“Gimana keadaannya, Kyungsoo?” tanya Kris.
Mengingatkanku akan kejadian tempo hari di mana dengan tiba-tiba perkemahan utama diserang kelompok geng lain.
“Yang jelas dia masih hidup,” jawabku seadanya; tidak terlalu suka dengan orang itu. Kalau bukan karena Suho dia tidak akan pernah berada di kelompok ini.
“Sialan!”
Setelah umpatan Kai. Diantara kita bertiga tidak ada lagi yang bersuara, semua sibuk dengan ponsel masing-masing. Aku sempat melihat kesekeliling perkemahan utama yang sudah mereka benahi, sedikit menyesal karena tak ikut membantu mereka ketika mereka tengah dalam kesulitan.
Ini semua salah Jongdae. Andai dia tidak datang, mungkin aku tidak perlu repot mengamankannnya, tsh! Pacar tidak berguna.
“Kalian tidak berangkat kuliah?” tanya Kris penasaran.
Aku dan Kai saling menoleh sebelum menatap ke arah Kris bersamaan.
Kai membuat tanda peace dengan wajah meringis. “Kena skorsing.”
“Kalau kau?”
“Aku tidak memiliki minat belajar,” jawabku jujur. Aku menyandarkan punggung dengan tangan terlipat sebagai bantalan. “Mau hidup bebas tanpa aturan ini itu anu, menyenangkan bukan?” lirikku mengejek. Alisku mengernyit ketika melihat Kris dan Kai menatapku lekat dengan ekspresi aneh. “Ada yang salah?”
“Otakmu,” maki Kris.
“Ini bekas pantat siapa hangat sekali?” heboh Kai.
Aku mengabaikan mereka. Napas, detak jantung, aliran darah, pikiranku, tidak ada yang bisa mengaturku kecuali aku sendiri.
“Di kampus sedang heboh,” ujar Kai tiba-tiba.
“Heboh kenapa?” tanya Kris penasaran.
Aku tidak bodoh ketika aku menangkap basah Kai yang sempat melirikku sinis. Namun, aku mengabaikannya. Kembali memilih menunggu balasan dari Jongdae. Selain itu, tidak penting.
“Jongdae memutuskan keluar dari Universitas karena sedang hamil anak Sehun.”
Aku tidak tahu apa yang aku pikirkan ketika suara Kai baru menyelesaikan kalimatnya. Kedua kakiku refleks bangkit dan berjalan mendekati motor dengan cepat seakan tak ada hari besok.
"Chanyeol, kamu mau pergi ke mana? Hati-hati di jalan, waspadai bahaya maut."
Mengendarai kuda besi itu membelah jalanan kota Seoul di siang hari. Menuju tempat yang biasanya aku kutuk dengan segala aturannya. Mulutku membisu, sedangkan otakku telah berkelana entah ke mana.
Aku memang tidak menyukai Universitas, tapi dia yang kukenal memiliki cita-cita sebagai seorang dosen. Dia tidak boleh putus belajar apa pun yang terjadi dan dengan alasan apa pun, termasuk janin sialan yang mungkin akan merenggut masa depan Jongdae.
Kereta besi yang telah menemani saya selama hampir dua tahun berhenti tepat di depan gerbang kampus. Mata saya mengamati anak-anak muda yang berjalan-jalan di dalam. Saya mungkin hanya berada di sana selama 2 menit sebelum akhirnya kembali melaju dengan kecepatan penuh untuk pergi ke tempat lain.
Aku tidak berpikir berapa menit yang aku butuhkan untuk sampai di depan rumah Jongdae ketika aku tadi hampir dikejar polisi lalu lintas.
Aku menatap rumah dengan pagar besi bercat kream itu lekat. Menekan tombol bel yang tersedia di sana ketika tak berapa lama seorang wanita paruh baya yang takku kenal membuka pintu depan wajah binggung.
“Mencari siapa?”
"Kim Jongdae?"
Wanita itu menampilkan wajah tak enak yang terlihat memuakkan dimataku.
“Tengah ada urusan keluarga di sini, bisakah Anda kembali lagi lain kali?”
Dahiku mengernyit binggung. “Ada hal penting yang harus aku bicarakan dengan Jongdae.”
“Tidak bisa, datang saja lain kali lagi, ya, Nak.”
Aku tidak suka dengan orang ini.
“Panggil Jongdae, aku pacarnya. Dia tengah dicari polisi.”
Aku tahu wanita itu terkejut bukan main. “Polisi?”
Aku mengangguk. “Hanya sebuah kesalahan pahaman, tapi aku tetap harus menyampaikan sesuatu padanya agar masalah tidak berlarut-larut,” ujarku yakin. Tidak ingin berbohong terlalu banyak sebenarnya, tapi jika tak ada cara lain, cara apa pun akan aku lakukan meski itu harus membunuh seseorang.
“Ayo, masuklah.” Dia mengantarkanku menuju Jongdae, di ruang utama, beberapa orang terlihat tengah berkumpul di sana.
Aku melihat sosoknya. Jongdae jelas marah dengan Sehun, keluarganya, khususnya pada orang tuanya, dan aku. Aku memutuskan pergi tak lama setelah itu, berpikir lagi bahwa mungkin ini bukan waktu yang tepat untuk mengomelinya dan mengajaknya untuk baik-baik saja seperti sebelumnya, seperti tak terjadi apa-apa.
“Tidakkah kalian mengerti posisiku?”Teriakan Jongdae masih terngiang di benakku. Tatapan memohon itu jelas ditujukan padaku yang sedang diantar pergi oleh ayah Sehun dengan pasrah.
Angin malam di bulan Januari di pingir kota Seoul adalah yang terbaik untuk semakin membuat otakku membeku. Aku bergidik ketika mengembuskan napas dan uap keluar dari lubang hidung dan mulutku. Mengusap-usapkan telapak tangan untuk sedikit menghangatkan badan.
Aku berdiri dari posisi berjongkok ketika dari kejauhan aku melihat siluet seorang lelaki tengah menaiki tangga menuju ke tempatku. Aku menutup mataku sejenak; mengantuk. Sepasang daun telingaku menangkap setiap pijakannya yang menyatu dengan suara gesekan daun dan ocehan jangkrik.
“Sudah lama menunggu?”
Aku menutup mulutku yang tengah menguap lebar. Menatap sosok dihadapanku yang tengah menampilkan senyum bodoh itu malas.
“Intinya saja, aku tidak suka berbasa-basi apalagi itu denganmu,” tajamku.
Dia tersenyum—berhenti melangkah ketika jaraknya denganku tinggal lima undakan lagi—dengan kepalan tangan yang ia masukkan kedalam jaket.
“Apa maksudmu mengaku sebagai ayah makhluk didalam perut Jongdae itu?” Aku tak bisa menahannya ketika aku lihat dia kembali melangkah naik.
Menggeleng beberapa kali dengan senyum miring yang seakan meremehkan. Sehun balas menatapku tajam. “Maksudku baik,” jawabnya, “kau menyuruhnya untuk membunuh anakmu sendiri yang dalam artian lain kau tidak ingin bertanggung jawab. Aku hanya mengantikan hukumanmu sekalian membantu Jongdae mempertahankan apa yang diinginkannya, itu saja, kok,” jawabnya enteng. “Lagipula aku mencintainya, jadi aku sangat tidak keberatan.”
Sepasang tanganku mengepal. Aku tersenyum miring ketika apa yang Sehun lakukan kembali terlintas dalam otakku.
“Lalu apa yang tengah kau pikirkan ketika kau naik ke atas kamar Jongdae ketika aku tengah keluar, lalu kau tidur disampingnya dengan tubuh telanjang?” Aku mengeram, berusaha sebaik mungkin untuk tidak lepas kontrol. Aku sudah mendengarnya sendiri dari pertengkaran Jongdae dengan orang tuanya siang tadi, membuatku ingat bahwa sebelum pergi membeli makanan aku membersihkan luka Sehun—setelahku pukuli hingga babak belur— dan menaruhnya di sofa depan televisi. Jadi bagaimana bisa ceritanya jadi Sehun dan Jongdae melakukannya hubungan badan ketika Jongdae tengah tidur? Dan ... dan dipergoki orang tua Jongdae? Skenario macam apa ini!
Dia tertawa pelan. “Kelumpuhan tidurMungkin?”
“Berengsek!” Aku meninju udara dan langsung melesat menghantam Sehun. Melesatkan pukulan bertubi-tubi yang berhasil dengan mudah Sehun tangkis dan hindari.
Aku mengeram kesal dengan amarah memuncak. Jelas Sehun telah menyulut api sejak pertemuan pertama kami. Aku mengincar perutnya ketika dengan tiba-tiba kaki kiriku dijegal olehnya hingga membuatku jatuh terduduk. Sehun menendang tulang keringku beberapa kali, sebisa mungkin aku tak mengeluarkan suara rintihan.
Aku mendongak dengan tatapan nyalang ketika Sehun telah berhenti dengan kegiatannya.
“Tidak peduli apa yang aku lakukan, kau akan tetap dipandang sebagai pemeran antagonisnya.” Dia menyisir rambutnya yang sedikit panjang kebelakang. “Pernikahan kita akan dilaksanakan setelah Jongdae melahirkan anak kalian, tepat setelah aku lulus SMA.”
“Jangan gila kalian masih anak kecil dan kalian adalah saudara!” geramku. Mengabaikan fakta bahwa Sehun lebih muda 2 tahun dari aku dan Jongdae
Sehun tertawa lepas. “Lalu kenapa? Masa depanku lebih terjamin dibanding denganmu, tidak peduli meski kita memiliki hubungan darah atau usia yang terlampau jauh.”
Aku bangkit dari posisi pecundang yang sempat berhasil Sehun sematkan. Sejak awal aku sudah menduga bahwa Sehun itu gila, dia terobsesi dengan saudaranya sendiri!
“Lagi pula menikah muda tidak buruk, tidak beda jauh kan dengan kalian yang sudah melakukan seks ketika masih kelas 2 SMA?” Sehun menaikturunkan alisnya; mengejek.
Aku baru saja akan menendang kakinya ketika tengkukku merasakan cambukan ikat pinggang yang Sehun layangkan dalam secepat kilat, tubuhku terpelanting mengelinding menuruni anak tangga yang— memiliki ketinggian curam— hingga undakan terakhir.
“Uhuk, uhuk, uhuk.” Aku terbatuk-batuk, darah segar itu jelas luar dari mulut juga keningku. Langkah tenang dari sepatu Sehun berputar menuruni anak tangga. Tubuhku yang masih dalam keadaan tengkurap lemah berusaha menyangga agar dadaku tak terlalu sesak.
“Maaf telah merebut sosok berharga dalam hidupmu.” Sehun tersenyum paksa. “Lain kali, jika kau jatuh cinta lagi, jangan melakukan hal bodoh lagi.” Aku menatap punggungnya yang semakin menjauh tajam penuh dendam. Namun, tiba-tiba punggung itu kembali berbalik. “Oh, ya, lupa,” ujar Sehun, “aku dan Jongdae akan pindah ke Kanada setelah kita resmi menikah, seluruh keluarga sudah sepakat jadi tolong doakan yang terbaik untuk kelancaran pernikahan kami.” Sehun mengedipkan sebelah matanya sebelum akhirnya benar-benar menghilang dari pandanganku.
“ARRGHHH!!” Kenapa dia tidak selemah biasanya!
🥀🥀🥀
