Kumpulan cerita pendek karya Kang Yeop

Ada semak mawar yang sedang mekar di belakang kolumbarium.

photoW. Kang Yeop






Pokoknya, di malam yang tenang, saya mendengar halusinasi pendengaran melalui suara hujan.
Sepertinya kamu berdiri di antara keduanya.
Kalangan populer juga akan terus mengikuti Anda ke mana pun.



////


 
Kau dan aku cukup dekat sehingga kita bisa disebut teman atau kekasih. Tapi kita berjauhan. Kita begitu dekat, begitu dekat, namun begitu jauh. Aku menyukaimu seperti sebuah fragmen, bahkan tak tahu di mana hatimu berada, begitu jauh. Aku masih ingat dengan jelas rambut pendekmu yang panjang dan hitam pekat, bibirmu yang selalu merah padam karena kebiasaanmu menggigit bibir, kulitmu yang putih seperti giok, dan suaramu yang sering serak karena kau tak bisa membiasakan diri minum air. Aku masih ingat dengan jelas tanganmu yang selalu dingin karena sindrom Raynaud. Rasanya kau akan berlari ke arahku lagi kapan saja, melengkungkan matamu yang cantik, tersenyum cerah dengan bibirmu yang merah padam, dan memelukku erat dengan suara serak. Kwon Soon-young, baik hidup maupun mati, kau selalu seperti anak kecil dalam fantasi.

 
Kau ditemukan pada sore hari saat aku memanggilmu untuk mengaku, dengan lusinan mawar dan tangan yang akan tetap dingin selamanya. Kau menyeberang jalan sembarangan, takut terlambat untuk janji temu, dan karena hujan deras pagi itu, sebuah truk yang lewat tergelincir tanpa bisa mengerem dan menabrakmu. Lusinan mawar merah darahmu dikirimkan kepadaku. Di surat di antara kelopaknya, perasaanku tertulis. Ada kalimat-kalimat panjang, berbelit-belit yang telah kuluruskan dengan segenap hati dan jiwaku, menekan hatiku. Di ruang perawatan intensif itu, aku mencoba memegang tanganmu, menyatukan jari-jari kita, tetapi tanganmu masih dingin, tetapi aku tidak bisa menggenggamnya dengan benar. Tanganmu jatuh, lemah dan lesu. Jatuh tanpa henti.



Seandainya kau bisa bangun, aku bisa menjadikan ranjang di sampingmu ini rumahku selama puluhan tahun, seperti adegan dalam film atau drama. Soonyoung, kau pasti membenci itu. Setelah hanya dua hari di unit perawatan intensif, kau seperti sayuran, dan kemudian di malam yang sunyi, detak jantungmu berhenti, seperti garis lurus. Aku bahkan tak sanggup memegang satu tanganmu yang dingin. Aku bahkan tak sanggup memegang tanganmu yang perlahan mengeras. Aku menghabiskan waktu dengan tenang, begitu sia-sia, seperti dirimu. Aku meletakkan setangkai mawar yang menyerupai bibirmu di kompartemen ketiga rumah mayat di seberang gunung. Saat aku melihat fotomu, semuanya masih jelas. Suaramu yang serak, bibirmu yang menggigit tanpa alasan, dan rambutmu yang hitam pekat. Dulu kau besar, tapi sekarang kau tak lebih dari segumpal tulang yang bisa kugenggam erat.

Tapi, kau tahu, Sunyoung, ada semak mawar yang sedang mekar di belakang kolumbarium itu.



Ada semak mawar yang sedang mekar di belakang kolumbarium.