Maaf, tapi tidak menyesal.

Bab 1 🥀

🥀🥀🥀


Sudut Pandang 1 Kim Jongdae


photo

photo

🥀🥀🥀🥀🥀



“Apa yang sedang kamu lakukan?” kataku pada dinding kamar, terlihat seperti orang gila, karena keadaan sekitar tamaram —lampunya sengaja aku matikan—jadi aku tak perlu terlihat bodoh didepan cicak-cicak jelek. “Malam ini sungguh dingin.” Lagi-lagi, aku mengoceh sendiri, “bagaimana harimu hari ini?” Sebenarnya aku gugup. “Aku merindukanmu.” Kan! Malah jujur! Untungnya aku belum meneleponnya. “Apa, kamu sudah makan?” Oke, ganti topik! “Apa besok kita bisa bertemu?” Lalu aku segera tersadar ketika melihat bayanganku sendiri. “Apa aku bisa mendengar suara tawamu?” Pada akhirnya aku hanya bisa menghela napas kosong.

Tapi, tunggu sebentar! Aku tidak boleh menyerah semudah ini, 'kan? Kita sudah lama saling mengenal jadi seharusnya tidak ada lagi kecanggungan! Apalagi diantara kita, hubungan yang terjalin bukan lagi hubungan biasa. Ini hanya menelepon seperti orang normal, kebanyakan pasangan di dunia ini pasti melakukan itu, jadi ini adalah hal yang biasa-biasa saja, 'kan?

Hobakjuk kelihatannya enak.” Kemudian aku memaksakan senyum lebar, senyum yang manis yang sering mendapatkan pujian dari teman-teman— tidak! Tidak! Tidak! Aish, kepalaku jadi sedikit pusing akibat terlalu kuat menggeleng. Entah kenapa tiba-tiba semua itu terdengar menggerikan! Meski kata-kata semacam itu lazim dalam sebuah hubungan. Tetapi, akan terdengar canggung kalau hanya satu pihak yang begitu antusias dalam sebuah percakapan. “Aku malu,” desisku gelisah.

Aku kembali menatap layar ponselku yang masih menampilkan nomornya. Seharusnya aku akan menghubunginya? Namun, jempolku akan langsung kram setiap kali akan menekan tombol hijau itu, aneh sekali, padahal hanya masalah sepele seperti menelepon, aku menelepon pacarku okay, tapi rasanya seperti mau menelepon malaikat kematian yang mau membunuhku malam ini!

Pokoknya aku tidak bisa! Tidak bisa menyerah berusaha meneleponnya dan tidak bisa juga meneleponnya!

Denting jarum jam terus berputar melewati angka, malam ini begitu sunyi membuat helaan napasku bahkan terdengar jelas, tidak ada jangkrik atau hewan-hewan nokturnal lainnya yang bernyanyi, mungkin mereka pusing melihat kegelisahanku? Tapi siapa peduli! Kedua kakiku tak bisa diajak berhenti berjalan mondar-mandir—

“Pukul segini baru pulang!”

Tubuhku berjengkit kala suara teriakan seorang wanita yang tinggal disamping rumahku itu memecah hening. Aku yang semula mengigiti ujung handphone berjalan mendekati jendela untuk mengintip sepasang suami-istri itu.

“Dari mana saja kau ini, hah! Pulang ke rumah selingkuhanmu!”

Yah, kehidupan orang dewasa memang tak seindah drama, ya. Sepasang suami-istri itu memang sangat sering bertengkar, istrinya yang selalu menuduh bahwa suaminya selingkuh dan sang suami yang selalu pulang malam salam keadaan mabuk-mabukan. Seluruh orang kompleks sudah mengetahui hal ini, awalnya mereka bahkan mau saling membunuh dengan membawa pecahan botol soju, orang-orang memisahkan mereka, tapi begitu di kantor polisi keduanya langsung mesra lagi, hal itu terjadi begitu sering, sekarang orang-orang tidak ada lagi yang peduli dengan mereka sekalipun sang istri pernah ditembak dengan pistol oleh si sua—

“Kenapa menelepon malam-malam begini?”

Suami ... hah?

Dengan panik, aku melihat layar ponsel, mataku melotot dengan bibir membentuk huruf V, pelipisku langsung menetes keringat dingin sebesar biji kacang polong. Saliva ini tertelan dengan susah payah, pada akhirnya aku hanya bisa memaksakan senyum canggung begitu melihat wajah tampannya dengan dahi mengernyit bingung menunggu suaraku. Sial, ini curang, aku tak sengaja menekan tombol panggilan!

"Hai!"

Dia melambaikan telapak tangannya didepan layar ponsel.

“Ya! Suami bajingan! Mau ke mana lagi kau, hah!”

Aku segera menutup gorden dan berlari menuju kasur, menutup seluruh tubuhku dengan selimut begitu tetangga disamping rumahku itu kembali bertengkar; seperti malam-malam biasanya. Suara barang dilempar dan adu mulut mungkin sudah menjadi rutinitas mereka setiap harinya, itu tak bagus untuk pacarku dengar. Aku harap mereka bercerai saja.

Aku memasang earphone. Menatap layar yang syukurnya masih menyala menampilkan sepasang mata besarnya. Lalu melakukan perang batin; memilih kata pertama untuk menyapanya. Tidak ada banyak waktu atau aku akan—

"Lingkaran cahaya?"

Refleks aku melempar ponsel itu begitu suara laki-laki yang memenuhi memoriku selama satu tahun terakhir ini itu terdengar lagi. Aku menarik napas pelan dan mengembuskannya, dengar bibir manyun kembali meraih ponsel itu dan meletakkan didepan wajah. Dia memutar ponselnya, lalu berjalan dan mengarahkan layar ponselnya pada kakinya yang melangkah, aku bisa melihat dia mengenakan celana berbahan jeans dengan bagian bolong di sana sini—terutama bagian lutut, persis seperti dirinya, benar-benar seperti selera berbusana laki-laki yang menembakku dengan norak dan memaksaku menjadi pacarnya setahun silam.

Itu hanya samar-samar namun dengan keyakinan bahwa aku sudah mengorek kotoran telingaku tadi sore, diantara suara langkah kaki dan obrolannya, aku mendengar langkah kakinya yang menyatu dengan musik DJ dan teriakan orang-orang yang semakin menghilang. Dia tadi memang tidak menunjukkan latar belakang tempatnya dan hanya menunjukkan wajahnya hingga memenuhi layar.

"Kamu lagi di mana?” tanyaku; basa-basi. Tidak marah, kok. Cuma mau nanya aja, tapi sepertinya dia tidak berpikir demikian? Itu terbukti ketika sudah hampir beberapa menit namun dia belum juga menjawab pertanyaan sederhanaku dan sedikit kekesalan lainnya, itu terjadi ketika entah mengapa tiba-tiba saja pelipisku kembali berkeringat, telapak tangan dan kakiku juga, tapi kali ini rasanya berbeda.

Aku kembali memikirkan kata-kata yang tepat untuk menyapanya. “Hei, apa kamu sudah makan?” Aku meringis malu, kenapa malah itu yang terucap, sih! Ini kan sudah hampir pukul 2 dini hari! “Hehehe, tidak usah dijawab kalau begitu.”

Aku kemudian berbaring, masih dengan bersembunyi dibawah selimut, lagipula kening sebelah kananku baru saja ditumbuhi jerawat, aku tidak ingin memperlihatkannya itu sebelum jerawat sialan itu menghilang. Setidaknya, pemikiran kekanak-kanakan itu sedikit menghilangkan rasa nyeri yang kembali mulai menyerang perutku, karena lagi-lagi aku menunda makan, hehe.

Aku melirik layar ponsel yang menunjukkan angka 02.04 KST. Orang-orang di rumah sudah mematikan lampu; tidur. Begitupun denganku; pura-pura tidur. Jadi sebisa mungkin aku tidak ingin membuat keributan sekecil apa pun yang dapat membuat kedua orang tuaku terbangun dan memeriksa kamarku yang berantakan ini.

Aku sedikit menjauhkan udaratelepon begitu suaranya berubah seperti radio rusak. Mengamatinya perlahan sebelum kembali kukenakan.

“Maaf, maaf.”

Ujung bibirku tertarik begitu laki-laki itu mengeluarkan suaranya lagi.

“Tidak apa-apa,” kataku, agak sedikit bohong, tapi anggap saja sebagai permintaan maaf soalnya tadi juga sudah membuatnya menunggu.

“Aku tengah bersama dengan anak-anak, seperti biasa, dan aku sudah makan,” jawabnya, cepat, singkat, dan padat.

Agak berlebihan sih ketika tiba-tiba jantungku rasanya berdetak lebih cepat dengan tanganku yang gemetar dan sedikit berkeringat, mungkinkah ini yang dinamakan jatuh cinta berkali-kali pada orang yang sama?

“Suho mentraktir kita semua khusus malam ini.”Dia mulai bercerita, suasana di tempat itu tidak seramai sebelumnya.

Aku menyingkap selimut; mencari udara segar. “Itu pasti menyenangkan.” Tanganku meraih botol air mineral yang ada diatas nakas. Membuka botol itu dengan tangan kiri cepat dan meminumnya hingga hanya tersisa setengah.

“Bagaimana denganmu, kamu sudah makan malam?”

Aku mengangguk; meski tahu dia tidak akan melihatnya. “Sudah, hari ini Ibu memasak Taman bir,” bohongku tak sepenuhnya dusta. Karena ibu benar-benar memasak larva ulat sutra menjijikan itu. Aku mendengarnya tertawa. Dengan cepat aku mengaktifkan mode perekam, benar-benar tak ingin kehilangan sedikitpun momen berharga dengannya.

“Kau memakannya?” Nada suaranya seakan tidak percaya. “Ceritakan padaku!” suaranya terdengar begitu antusias dan itu sukses membuat jantungku berdetak kencang seperti orang mau mati untuk yang kesekian kalinya.

“Mari kita memakannya bersama dan saling menceritakan bagaimana rasanya,” jawabku sinis. Meski Taman bir adalah makanan Korea yang cukup terkenal dikalangan turis. Tetapi, tidak semua orang Korea Selatan sudi memakannya, termasuk aku!

"Aish, itu curang sekali."

Aku menahan tawaku; takut orang rumah akan tahu kalau aku masih terjaga hingga selarut ini. “Omong-omong, mengapa Suho begitu baik?” binggungku. “Tumben.”

“Coba tebak.”

“Aku menyerah, ini pertanyaan sulit.” Dahiku mengernyit. “Apa dia kembali mencetak angka 2?” tebakku. Coba menghitung berapa banyak angka 2 yang sudah dia cetak laki-laki itu selama hidupnya.

Dia berdecak, lalu berujar bangga, “Jangan menghina, tapi malam ini Suho mencetak angka baru.”

Senyumku memudar. Sejak awal seharunya aku sudah tahu dia ada di mana dan sedang melakukan apa. Rasa kecewa itu makin mengukungku lebih jauh ketika senyum lebar itu jelas-jelas terpatri indah diwajahnya. Yah, soalnya aku memang sebodoh itu, 'kan? “Juara 1?” responsku tak minat. ”Wah, selamat, deh.”

Dia kembali tertawa. Aku memastikan bahwa mode perekamannya masih menyala.

“Salah, tebak lagi.”

“Juara 3?” kataku tak yakin. “Kalau benar, berarti itu sebuah prestasi baru yang patut dicemooh.”

“Angka sebelum angka 1.”

Aku kembali mengernyit, benar-benar bingung dengan isi percakapan yang mulai tak kusukai ini. Bisakah aku mengakhirinya sampai di sini saja?

“Aku memberimu petunjuk.”

Beberapa suara asing yang tak kukenal terdengar memanggil nama pacarku dengar akrab, aku mengenal teman-temannya sebaik dia juga mengenal teman-temanku, jadi pasti bukan mereka.

“Nol?”

Dia tertawa lagi. Aku mencengkeram ponsel erat, perutku rasanya seperti diaduk dan kepalaku semakin berat, rasanya seperti dihantam besi berkali-kali.

“Dia mengatakan bahwa keluar dari geng. Orang tuanya memaksanya melanjutkan sekolah di Inggris, besok dia sudah akan berangkat. Orang tuanya memberinya uang untuk mentraktir kita semua sebagai tanda perpisahan. Ck, harusnya kamu ikut tadi, tapi sayang sekali kamu memiliki urusan—”

“Kalau kamu kapan akan berhentinya?” potongku, benar-benar tidak lagi peduli dengan apa yang keluar dari mulutku, rasa sakit itu lebih mendominasi, bahkan jika dia meminta putus mungkin aku akan dengan bodoh bilang iya tanpa pikir panjang. Yah, meski setelah itu aku juga cukup menyesal, dia tidak menyahuti perkataanku.

Aku mengigit ujung bibir gugup. Jari-jariku meremas selimut sebagai pelapiasan kegelisahan. Aku takut. Seharusnya aku tidak menanyakan hal bodoh itu lagi, ini sudah yang kesekian kalinya.

Aku menoleh kesegala penjuru; gelap. Aku langsung menelan saliva begitu melihat ke arah jendela yang belum termasuk sepenuhnya, di sana laki-laki yang tadi diteriaki istrinya tengah menatap ke arah kamarku tajam. Buru-buru aku melempar ponsel dan beranjak dari kasur, menutup gorden cepat dan kembali duduk diatas kasur.

Aku mengecek sambungan telepon yang ternyata masih tersambung. “Chan—”

"Kim Jongdae."

Aku terdiam, nada suaranya berubah.

“Sudah berapa kali kita membicarakan ini?”

Aku tidak bisa menjawabnya. Aku tidak pernah mencatatnya! Yang jelas, hampir disetiap kesempatan seperti ini aku selalu bertanya padanya, kapan dia akan berhenti? Aku tidak suka, jujur, tidak menyukainya, biarkan orang-orang mengatakan aku egois, pokoknya aku memang tidak menyukai apa yang dia lakukan meskipun itu membuatnya bahagia.

“Ah, sudahlah—”

“Tunggu!” sergahku memotong ucapannya; takut kalau Chanyeol akan menutup telepon.

Aku berdiri tegap dengan ujung jantung yang menggila. “Maafkan ucapanku tadi, ya?” Untuk yang kesekian kalinya. Aku memohon. “Lupakan saja kata-kata tidak pentingku barusan.” Masih tidak ada komentar apa pun darinya. “Besok Sabtu dan aku libur.” Aku mengutarakan tujuan awalku mengapa meneleponnya. “Apa kita bisa bertemu? Ditempat biasa, ada hal penting yang ingin aku sampaikan padamu.” Ekspresi wajahnya masih tak berubah; datar. “Sebentaaaar saja, ada hal penting yang harus kamu ketahui.”

Terdengar helaan napas dari seberang sana. “Sangat.”

Tidak lama setelah itu sambungan terputus. Padahal masih banyak rinduku yang belum terbayar tuntas.

Aku langsung melempar ponsel ke mana saja tanpa minat. Aku berbaring, mencoba memejamkan mata dengan suara perutku sebagai lagu pengantar tidur. Sulit, tapi akhirnya aku tertidur hingga pagi.

Aku tahu aku tidak akan bisa tidur dengan mudah setelah ini. Sekarang otakku tengah sibuk menyusun kata tepat untuk mengatakan semuanya pada Chanyeol besok. “Apa Chanyeol akan membenciku?”

🥀🥀🥀


“Kappuccino 1.”

“Baik, mohon tunggu sebentar.”

Aku mengangguk. Menyembunyikan telapak tanganku dibalik jaket berlabis kardigan. Melirik tempat didekatku berdiri; mencari tempat duduk. Menghela napas kecewa ketika tahu kursi taman berada jauh dari tempatku saat ini.

Kepalaku melongak melihat mobil kafe yang tengah menyiapkan pesananku, beberapa orang dibelakangku juga tengah mengantre. Taman Nasional Korea akan selalu ramai setiap akhir pekan, para orang tua di Korea Selatan akan memanfaatkan waktu liburan mereka sebaik mungkin dengan keluarga terutama anak-anak mereka dengan mengajak jalan-jalan seperti ke taman hiburan atau tempat rekreasi lainnya. Melihat itu membuatku merindukan masa-masa kecil ketika orang tuaku seperti para orang tua yang tengah aku lihat ini. Tiba-tiba jadi memikirkan bagaimana kalau nanti aku juga punya anak sendiri? Isi perutku pasti isinya hanya nasi dan mi, bukan makhluk kecil yang katanya namanya bayi itu.

Aku kembali menghela napas untuk yang kesekian kalinya siang ini. Sepasang keluarga kecil yang tengah berfoto di sampingku itu mengingatkanku akan ayah dan ibuku dulu ketika aku masih kecil, itu adalah masa terbaik yang tidak pernah akan aku lupakan, soalnya masa itu hanya akan terjadi sekali. Agak sayang sebenarnya ketika dulu aku selalu merengek untuk segera pulang—

“Oh Jongdae?”

Tubuhku menegang ketika ada sebuah tangan dingin yang menyentuh leherku. Refleks saja aku langsung menoleh kebelakang. Dahiku mengernyit begitu melihat sosok yang saat ini tengah tersenyum lebar dihadapanku.

“Namaku Kim Jongdae kalau kamu amnesia,” balasku sewot. Orang yang suka menganti marga orang lain seenaknya tidak perlu dihormati tahu!

“Jadi kamu adalah si YouTubers Jongdae itu? Apakah si YouTubers ini saat ini tengah mendengarkan lagu Amnesia dari soloist KAI?” Sehun menyentuh udaratelepon yang tengah aku pakai. Dengan refleks aku menjauhkan tangannya dari telingaku. Cih, laki-laki yang menyerupai mayat hidup, maksudku vampir, itu apa tengah membicarakan Bandung Oppa? Aku pernah mencoba menonton videonya karena nama kita sama, tapi dia orang Korea yang tidak berbicara bahasa Korea, jadi aku batal mengikutinya, soalnya tidak paham dengan bahasa yang dia gunakan.

“Ish, apa yang tengah kau bicarakan?” Aku kesal. Laki-laki dihadapanku ini menyebalkan. “Kalau hanya ingin menganggu sebaiknya pergi sana, hush, hush, hush!" usirku dengan tangan mengibas-ibas.

“Ini kapucino pesanan Anda.”

Aku berbalik menerima minumanku. Menyerahkan selembar won sebelum mengatakan, “Terima kasih banyak.” Lalu beranjak pergi dari tempat itu. Tidak peduli bahwa saat ini ada Sehun yang tengah berjalan disampingku.

“Sedang membuat janji, ya?” tanya Sehun penasaran.

Aku mengangguk saja. Suaranya masih sedikit terdengar diantara gendang telingaku yang tengah mendengarkan lagu Tinggal milik EXO.

"Aish, sayang sekali."

Aku mencari tempat duduk dibawah pohon rindang, di sini nyaman sekali, harusnya tadi aku membawa buku, tapi mungkin kali ini harus sudah cukup dengan membaca novel di Wattpad. Ini adalah spot terbaik untuk melihat pengunjung lain berlalu-lalang. Aku sempat melirik Sehun yang mengambil duduk di sampingku. “Kenapa kamu duduk di sini?” binggungku, tidak terima, tapi seharunya Sehun sudah peka kalau aku mengusirnya.

"Tidak bisa, ya?"

“Iya, tidak boleh.” Aku menaruh kapucinoku. “Pergi sana.” Kata-kataku kasar sekali, sih. Tapi siapa peduli.

“Padahal aku ingin menemanimu, loh? Daripada duduk sendiri seperti ini, akan banyak yang iri bila melihatmu duduk bersama pria tampan sepertiku,” ujar Sehun percaya diri.

Aku tidak mau membantahnya, meski itu bisa sekali aku lakukan. Benar dia memang tampan, tapi aku tidak peduli. Fisik itu hanya sementara. “20 tahun lagi kamu paat juga akan tua dan jelek—YA! Ini sakit, Oh Sehun!” Aku marah! Sehun mencubit pinggangku! Dia bahkan tertawa tanpa rasa bersalah sedikit pun! “Aku akan melaporkanmu pada pihak yang berwajib!” Aku tidak sedang mengancam!

Wajahku memanas. Sehun tertawa terbahak-bahak sampai sepasang matanya membentuk bulan sabit. “Wajahmu seperti kepiting rebus! Kamu malu, ya? Malu itu tandanya suka, loh.”

“Tidak! Mana ada yang semacam itu!” Aku meraih kapucinoku dan berdiri. “Siang ini begitu panas,” iya seperti itu yang benar, “aku kepanasan.” Ini agak sedikit berlebihan ketika aku berdiri dan mengibas-ibas kerah leherku sambil menatap ke depan pada orang-orang.

“Oke, oke.” Sehun mengatur tawanya hingga menghilang meski senyum lebar itu masih ditempatnya. “Omong-omong, kamu tengah membuat janji dengan siapa? Maksudku ada beberapa tipe temu janji yang tidak memperbolehkan orang lain bergabung sedangkan tipe temu janji yang umum, memperbolehkan siapa saja untuk bergabung.” Aku menelan saliva ketika Sehun menatap wajahku lekat. “Jadi apa aku boleh bergabung?”

“Tidak!” Bukan maksudku untuk membentaknya. “Maaf, tapi aku akan membicarakan hal yang penting dengan seseorang.”

“Sepenting apa hingga kamu tidak memperbolehkan sepupumu ini untuk bergabung?” Sehun kenapa jadi menyelidikiku begini, sih!

Aku menghela napas. Menyesap kopiku tanpa jeda. Oh Sehun dan keinginan tahuannya yang menyebalkan!

“Maksudmu kau ingin bertemu dengan si Chanyeol brandal itu?” tebak Sehun, tepat.

Membuatku sedikit merinding. Aku mengangguk membenarkan dan dengan sedikit tak ikhlas mengatakan, “Iya.”

Sehun kembali membuatku binggung ketika dia merangkul pundakku. Wajahnya begitu dekat dengan wajahku, bahkan aku dapat merasakan deru napas dan detak jantungnya.

Sehun memutar tubuhku dan menuntun wajahku pada seorang laki-laki yang tengah berdiri tegap 1 meter dari tempatku berdiri dengan telunjuknya.

“Itu dia si Chanyeol brandal.”

Mataku melebar.

“Sedang mengepalkan tangannya dengan ekspresi marah. Sepertinya dia habis kalah balapan lagi.”

🥀🥀🥀


Aku gagal bertemu dengan Chanyeol akibat si sepupu kurang ajar itu! Aku menghentakkan kaki kesal. Memandang sekelilingku di mana orang-orang sudah mulai beranjak pulang. Aku memperhatikan bayangan tubuhku yang sudah hampir menghilang. Lampu-lampu taman satu per satu sudah mulai dinyalakan, sementara hatiku masih jengkel karena hingga saat ini Chanyeol tak dapat dihubungi.

“Aku akan membunuhnya!” Tanganku mengepal. Sebuah kehormatan aku bisa membunuh si Oh Sehun itu! Masa bodoh dia adalah sepupuku. Sehun mencium pipiku dan Chanyeol yang salah paham jadi marah, lalu pergi meninggalkanku, kalau kita sampai putus ini semua salah Sehun!

Sehun memang sangat jahil! Aku membencinya!

Aku mengangkat ponselku ketika Xiumin menelepon. “Apa Chanyeol ada di sana?” serobotku; melupakan sopan santun.

Jantungku berdebar ketika mendengar suara motor yang saling beradu. Benar, Chanyeol ada di sana.

"Dia ada di sini," jawab Xiumin, “tapi saranku kamu sebaiknya tidak ke sini, aku akan memasukkannya baik-baik saja untukmu.”

Aku menggeleng meskipun tahu dia tidak akan melihatnya. “Terima kasih atas informasinya, Xiumin Hyung.” Aku memasukkan benda pipih persegi panjang itu kedalam saku celana ketika mataku sibuk menelusuri jalan yang sudah semakin gelap. “Aku akan menyelesaikan semuanya hari ini.” Aku bertekad!

Aku menunggu selama beberapa saat di halte bus—bersama beberapa orang yang juga tengah menunggu. Satu-satunya kegiatan yang aku lakukan hanyalah mengayunkan kaki dengan wajah bosan. Aku langsung mendonggakkan kepala ketika bus itu datang. Mengantre masuk dan memilih tempat duduk disamping jendela.

Aku menatap keluar bus. Siang begitu cepat berlalu, dan sekarang bumi sudah kembali dikukung gelap, malam ini bulan tak begitu terang bersinar. Aku menoleh kesamping ketika kurasakan ada seseorang yang mengambil tempat duduk disebelahku. Seorang laki-laki tua dengan beberapa uban dirambutnya, wajahnya tegas dengan alis menukik kebawah.

“Ada masalah, Nak?”

Mataku melebar. Tersenyum canggung dan menunduk. “Tid—ah, maafkan atas kelancanganku.” Aku mengusap tengkukku canggung.

“Dasar anak jaman sekarang.”

Telingaku berdengung panas, kepalaku sedikit pusing, dan ujung mataku tak henti berusaha untuk melirik sosok disampingku yang saat ini tengah berusaha memejamkan matanya.

Aku menghela napas ketika gedung kantor polisi Seoul sudah dilewati, itu artinya tinggal menunggu bus ini sampai dipemberhentian berikutnya, berjalan kaki ke arah utara, dan ... dan ke mana lagi setelah ini?

Aku mengusap rambutku kasar. Aku tidak tahu arah menuju tempat itu. Apa aku harus merayu Xiumin agar dia mau menjemputku?

“Apa yang tengah kau pikirkan?”

Aku menoleh. Lalu menggeleng. “Tidak ada, kok.”

"Aish, dasar curang."

Aku memaksakan senyum. “Terima kasih atas perhatiannya, Pak.”

“Aku belum setua itu.”

“Maaf.” Kami diam. Menikmati deru bus dalam kebisuan.

“Aku dulu juga pernah muda sepertimu.”

Aku tak menjawab, takut salah bicara lagi.

"Saat-saat di mana saya sering membuat banyak kesalahan yang sekarang saya sesali, saat-saat di mana saya mengambil langkah yang salah."

Aku memberanikan diri menatapnya. Dia menghela napas.

“Andai mesin waktu itu benar ada, pasti 99% manusia di dunia ini akan menggunakannya untuk mengubah keputusan mereka di masa lalu.”

🥀🥀🥀


Seperti sebuah penyesalan yang menghampiriku diawal, aku masih memikirkan kata-kata orang di dalam bus itu. Tidak sepenuhnya diawal, sudah banyak hal yang terlanjur terjadi padaku. Dan aku paham mesin waktu itu hanya bualan.

“Seharusnya aku mendengarkan kata-kata XiuminHyung.” Tubuhku kaku namun secara ajaib juga lemas ketika dengan mata kepala sendiri melihat Chanyeol tengah bercumbu dengan orang lain ditempat terbuka di mana banyak orang-orang yang aku kenal dengan baik. Tubuhku juga lemas ketika tahu Xiumin tengah menatapku bersalah di ujung sana.

Mereka semua tahu.

Tapi seakan pura-pura buta dan tuli.

Lalu bagaimana dengan perasaanku?

🥀🥀🥀