Ciuman Elektrik

Perubahan dan Keanehan

Tubuh sedingin es Kutub Selatan itu seketika kaku pada detik pertama kedua bibir mereka saling menempel dengan sengatan aneh yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Tidak ada lumatan seperti yang biasa Ailee lakukan padanya, kedua belah bibir mereka benar-benar hanya sekadar saling menempel rapat. Tetapi, anehnya sensasi yang timbul jauh diluar nalar, sensasi seperti disambar petir ribuan volt dengan kepalanya yang seakan langsung ditenggelamkan ke dasar lautan dan penuh oleh air.

Didetik ketiga ciuman itu berlangsung Chen segera buru-buru mendorong perempuan itu dari hadapannya hingga terjengkang, anehnya perempuan yang tadi sempat dipanggil Asha itu justru tersenyum, dia membersihkan darah yang melumuri baju berwarna ungunya dan sebagian wajahnya dengan tenang, dari sini Chen menyadari bahwa perempuan itu sama sekali tak terluka sedikit pun, namun darah yang berceceran di mana-mana itu jelas darah manusia asli, bukan darah hewan atau semacamnya.

Asha berdiri sambil mengibaskan rambutnya yang panjang sepunggung berwarna hitam legam agak bergelombang. "Gue nggak kenal siapa lo, tapi terima kasihYa, berkat kamu, aku menang.Jujur atau Berani, nih." Perempuan itu tertawa bersama beberapa orang teman perempuannya termasuk Lisa yang tadi berakting panik.

Chen mengerutkan kening bingung; entah apa yang lucu dari ucapan itu. Sementara orang-orang yang tadi berlarian untuk menolong, termasuk Rafael, memperhatikan sekitar bangunan rooftop tersebut.

Sepasang netra Rafael menemukan jarum suntik yang tergeletak begitu saja, dia memungutnya dan bertanya, "Jarum suntik siapa, nih?"

"Eh, itu Kai sama Iken ngapain mojok berduaan doang di sana?" Suara seorang laki-laki mengalihkan perhatian mereka, di mana dia melihat seorang perempuan yang agak gemuk berjilbab terduduk lesu dengan wajah pucat, pun dengan laki-laki disampingnya yang memiliki kulit agak gelap dengan hidung minimalis, bibirnya pecah-pecah dan wajahnya pucat pasi. Seakan darah kedua orang itu baru saja dikuras habis.

Sementara orang-orang itu pergi untuk menolong Kai dan Iken, Chen masih bergeming menatap Asha. "Jadi semua ini ulahmu?" tanyanya menyelidik. "Bukankah dalam kamus manusia ini perbuatan jahat? Mengapa masih melakukannya?"

Asha yang tadinya acuh tak acuh pada Chen kini mulai memperhatikan laki-laki yang tadi diciumnya itu, memperhatikan penampilan culun Chen dari atas kepala hingga ujung kaki, dan perempuan yang suka sekali merundung orang lain itu seketika bergidik ngeri kala menyadari bahwa dia baru saja mencium jenis laki-laki yang tidak akan pernah dikencaninya. "Akan lebih baik kalau lo nggak usah sok ikut campur," balasnya, "mau ceramah? Di masjid sana, mumpung hari ini hari jumat."

"Apa menasehati hanya boleh dilakukan oleh orang baik yang rajin beribadah?" Chen melangkah mendekati Asha dengan perasaan dongkol. "Sebaiknya perbaiki tingkah lakumu ini sebelum di masa depan kau celaka akibat perilaku burukmu sendiri selama ini ...."

Asha mengerutkan dahi bingung ketika tiba-tiba saja Chen terdiam mematung seperti orang kebingungan dan bahkan tak menyelesaikan kata-katanya. Merasa telah menang dari perdebatan konyol itu, Asha menyampirkan sikunya dipundak kanan Chen ketika dengan tiba-tiba laki-laki berlari pergi menuruni anak tangga, dia bahkan menerobos anak-anak yang tengah berusaha memapah Kai dan Iken untuk dibawa ke ruang kesehatan.

"Apaan, sih, dasar cowok aneh," gumam Asha dengan tangan bersedekap memandang kepergian Chen, "amit-amit gue ketemu sama dia lagi."

***


Raja vampir itu berlari terengah-engah keluar dari halaman kampus, dia sempat berhenti sejenak dan memandang patung gurita besar yang menjadi ikon Universitas KOCU tersebut. Dengan panik, Chen memperhatikan orang-orang yang berlalu-lalang, meneguk saliva kasar, Chen memandangi kedua telapak tangannya yang berkeringat, dia mengerakkan jari-jarinya gemetaran. Sementara pelipisnya sudah dipenuhi oleh keringat.

Tanpa mempedulikan misinya lagi, Chen bergegas berlari pulang, dia harus membicarakan ini pada yang lainnya terutama Hanbyul dan Lay mengapa kemampuannya sebagai vampir perlahan-lahan menghilang dan kembali seperti manusia biasa.

Tidak ada kendaraan pribadi atau uang untuk membayar biaya transportasi, Chen biasa berpergian dengan berlari, itu memudahkannya untuk berpatroli dan mencari mangsa. Tetapi saat ini keadaannya berbeda, Chen baru lari beberapa kilo meter dan napasnya seakan sudah mau putus, sendi-sendi kakinya seakan mau copot, dengan keringat yang semakin deras hingga membasahi kerah kemejanya. Sementara rumahnya berada di pinggir tebing di dalam hutan.

"Apa ramuan buatan Lay ternyata memiliki efek samping?" monolog Chen sambil beristirahat di bawah rindangnya pohon-pohon asam yang buahnya telah matang hingga berduyun-duyun. Chen tak sengaja menginjak beberapa buah asam yang berguguran ketika indera penciumannya tiba-tiba mencium aroma harum yang menguar-guar bersamaan dengan suara bising yang kian dekat.

Dia menyentuh perutnya ketika ribuan cacing perutnya berlomba-lomba mengeluarkan suara keruyukan; lapar. Itu adalah perasaan yang sama tiap kali Chen belum menghisap darah orang atau hewan, tapi kali ini berbeda, Chen menginginkan sesuatu yang laki-laki tua itu jual sambil berkeliling.

Bergegas Chen menghampiri orang tersebut. "Bisakah aku mendapatkan semua ini?" tanyanya.

Sementara si penjual yang awalnya berwajah masam kini tersenyum cerah sekali. "Oh, boleh-boleh, tunggu sebentar, ya." Karena kue putu yang dijualnya sejak tadi siang akhirnya ada yang membelinya juga.

Dengan air liur yang seakan bercucuran, Chen memperhatikan bapak-bapak penjualan itu memasukkan tepung beras ketan, lalu ditengahnya diberi gula merah sebelum akhirnya digulung berbentuk bulat memanjang. Selama kurang lebih 10 menit adonan tersebut dimasukkan ke dalam kuali kecil, direbus dengan menggunakan arang. Asap putih tipis mengepul kala panganan putu yang telah matang itu ditaruh diatas daun pisang dan ditaburi parutan kelapa. Jumlah yang Chen dapatkan adalah 20, dia langsung memakannya begitu sudah jadi sementara si penjual terus membuat putu lainnya hingga bahan-bahannya habis.

Chen bersendawa, perutnya begah sementara lidahnya bahagia bukan main.

"Ditotal, semuanya 2 ratus ribu rupiah, Mas," ujar si penjual tiba-tiba ketika melihat gelagat pembelinya yang tak kunjung memberinya uang. "Mas-nya punya uang, 'kan?"

Chen menggeleng-tidak, dia buru-buru meralat gelengan kepalanya menjadi anggukan. "Sebenarnya saya baru saja kecopetan, saya akan membayar kue-kue ini besok, bagaimana?" tawar Chen. "Kita bertemu lagi di sini di jam yang sama. Janji, saya tidak akan mengingkari janji, kalau Bapak tidak percaya Bapak bisa pergi ke kampus di seberang jalan itu, saya mahasiswa jurusan seni di Universitas KOCU. Nama saya Chen."

Bapak-bapak yang menggenakan topi keranjang berwarna cokelat yang sudah tampak usang itu menatap Chen penuh kecurigaan sebelum akhirnya melepaskannya.

Sementara itu, Chen sendiri hampir sampai di rumah yang menjadi tempat persembunyiannya selama ini bersama ratusan vampir lain yang dia kumpulkan ketika hari sudah menjelang gelap. Dari jarak sekitar 3 meter, Chen dapat melihat lampu obor di kana-kiri yang menyala pada bangunan yang didominasi batu-batu besar tersebut. Pada jalan setapak yang terdapat tanaman tinggi menjalar itu, beberapa orang vampir terlihat tengah berjaga ketika tiba-tiba saja mereka menunjukkan gelagat waspada pada kedatangan Chen.

Sehun yang juga berada dalam barisan itu mengambil tempat di depan sebagai pemimpin ketika mereka melihat siluet seorang pria yang beraroma asing tengah berjalan menghampiri mereka dengan langkah tenang. Sehun mengerutkan dahinya ketika mencium aroma manusia biasa, namun aura yang terpancar dari siluet itu justru sangat kuat. Terakhir kali Sehun merasakan aura kuat semacam ini pada seorang manusia adalah ketika dia membantu seorang pemimpin pemberontak yang tengah berusaha melarikan dari kejaran tentara penjajah beberapa ratus tahun silam.

Baekhyun yang juga ada di sana melesat menyerang sosok itu dalam kegelapan sampai akhirnya sepasang netra merahnya menangkap wajah sosok beraroma asing tersebut, kedua langkah Baekhyun berhenti mendadak setengah meter dari hadapan Chen yang menatapnya tajam. Vampir-vampir lain yang diam kini juga mulai bergerak.

"Chen?" panggil Sehun memastikan, "apa yang sebenarnya telah terjadi padamu?"

***