Udara sejuk rumah sakit di pagi hari bercampur dengan bau obat-obatan yang para pasiennya keluarkan. Seharian penuh aku tinggal di kamar rumah sakit dan rasanya aku akan gila detik itu juga.
Memilih berbaur dengan orang-orang penyakitan, aku menyuruh seorang suster membantuku menaiki kursi roda dan memaksanya untuk membiarkanku berkeliling seorang diri atau aku akan menggodanya terus-terusan. Oke, dalam beberapa kesempatan para suster itu mungkin kegirangan aku godai, itu hal yang lumrah karena aku tampan, kecuali saat aku sudah mulai menepuk bokong mereka.
āAku doakan mereka tidak mendapatkan kesempatan digodai pria tampan sepertiku lagi.ā Aku mengerutu sambil memegangi pipi kananku yang memerah setelah suster-suster itu tampar penuh kasih sayang.
Aku mengedarkan pandangan ke seluruh taman rumah sakit, memeriksa kukuku yang sudah sangat panjang dengan embusan angin sepoi yang membuai setiap helai rambutku.
āApa kabar, Jongdae?ā Aku mengedarkan pandangan, memandang malas orang-orang yang lalu-lalang. Berharap diantara puluhan orang itu ada Jongdae yang tengah berjalan menghampiriku dengan senyum lebarnya untuk merawatku. Tetapi, yang aku lihat justru Kyungsoo yang tengah berjalan ke arahku dengan pakaian rumah sakitnya.
āSekarang kita sama,ā katanya dengan nada mengejek. Kyungsoo berdiri disampingku. āBagaimana rasanya memiliki kaki patah?ā
Aku memukul lengan Kyungsoo kuat. āMau merasakannya sendiri?ā
āLihat ini? Ini, ini, dan ini.ā Kyungsoo menunjuk beberapa lebam di wajah dan tangannya. āKalau tambah 1 lebam lagi saja aku bisa dicoret dari daftar mahasiswa tertampan.ā
"Tempat."
Kami hening dengan pemikiran masing-masing selama beberapa saat hingga Kyungsoo menepuk bahuku pelan. āYeol, kau tahu kalau Jongdae ada di rumah sakit ini tidak?ā
Aku langsung menegakkan bahuku dan menghadap ke arahnya semangat. āDarimana kau tahu?ā
āKemarin aku tidak sengaja berpapasan dengannya di lorong rumah sakit,ā jelas Kyungsoo sambil menerawang, āaku tidak terlalu tahu apa yang terjadi dengannya, fisiknya terlihat baik-baik saja. Jangan marah ya, tapi sepertinya ini penyakit dalam, wajah Jongdae juga terlihat pucat.ā Aku mendengarkan dengan seksama setiap kalimat yang Kyungsoo ucapkan. āTapi anehnya, ayah Jongdae justru terlihat marah, waktu itu juga ada Sehun. Kau tahu kan, sepupu Jongdae yang terlihat seperti bule itu.ā
Aku mencengkeram ban kursi roda dengan marah, mataku terpejam erat, menyingkirkan kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi padanya.
āKenapa kau memberitahuku?ā Aku juga tidak tahu kenapa aku bertanya seperti ini.
Kyungsoo mengernyit heran. āKau kan kekasihnya? Eh, apa sudah putus, ya?ā
Rasanya aku ingin menyumpal mulut Kyungsoo dengan kaos kaki yang sudah setahun belum dicuci! Putus daripada! Bahkan aku masihāsebentar, tapi Sehun sendiri mengatakan bahwa mereka akan segera menikah. Aku bahkan juga tak berhasil mengguping pembicaraan mereka waktu itu karena aku terlalu pengecut.
āSebentar lagi Jongdae akan menāJongdae?ā Aku mengangkat kepalaku ketika tak sengaja melihat sosok yang sangat mirip Jongdae tengah berjalan beriringan dengan seseorang yang terlihat seperti Sehun.
Oh Sehun!
Kyungsoo berjalan lebih dekat dengan mereka, tak lama kemudian kembali menghampiriku. āIya, itu Jongdae bersama Sehun,ā infonya heboh.
āAntar aku ke sana.ā
āAku? Tidak, aku tidak tertarik mengurusi urusan orang laināā
āDo Kyungsoo.ā Aku menggeram dengan suara dalam andalanku, memberikan tatapan tak suka seperti dulu ketika pertama kali Kyungsoo dikenalkan oleh Suho di geng.
Kyungsoo menghembuskan napas pendeknya, berjalan ke arah belakang kursi rodaku dan mendorongnya dengan malas-malasan; mengalah. āCk, kau ini siput atau kura-kura?ā jengkelku. Dengan tak sabaran, aku memutar ban kursi roda itu sendiri.
Akhirnya Kyungsoo mau mendorongku, kami mengikuti Jongdae dan Sehun yang masuk ke dalam sebuah kamar pasien. Aku pikir mereka hanya berduaāhampir saja aku akan melompat dari kursi rodaku dan membunuh Sehunā hingga ketika aku mengintip dari celah pintu dan terlihat siluet punggung Bibi Oh, aku mengembuskan napas lega dan kembali berpikir positif.
āKau benar tidak ingin mengugurkan janin itu saja?ā Ibu Jongdae bertanya lembut. āAkibat obat penggugur yang gagal membunuhnya itu, dia kemungkinan besar tidak akan terlahir sempurna.ā
Apa?
āJongdae hamil?ā
āSsstt, diam, Berengsek!ā Aku memperingati Kyungsoo agar menutup mulutnya.
Dadaku bergemuruh dengan sekujur tubuh yang tiba-tiba panas-dingin, tengkukku menjalarkan hawa panas yang sampai ke mata, aku menahan napas dan menunggu percakapan mereka selanjutnya.
Namun, di antara ketiganya, tak seorang pun membuka mulut, semuanya tetap diam.
Jongdae menunduk dalam, tangannya ia bawa untuk mengelus perutnya yang masih datar yang berbalutkan lebih manis kuning. Dengan disaksikan ibunya dan Sehun, Jongdae mulai terisak pelan.
āAku akan merawatnya bagaimana pun keadaannya kelak.ā
Hatiku tercekik, hanya itu yang aku dengar dari suara lemah Jongdae.
āJongdae.ā Sehun berjongkok dibawah kaki Jongdae yang tengah duduk diatas kasur rumah sakit. āAku pikir ini sedikit salah, kau tahu hidup dengan kekurangan fisik itu tidak mudah, aku pernah memiliki seorang teman difabel dan dia sangat sering dibully, kehidupannya berjalan dengan sulit hingga akhirnya dia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.ā Sehun menatap manik mata Jongdae dalam. āJika disuruh memilih, dia mungkin tidak ingin dilahirkan dengan keadaan seperti itāā
āKenapa kamu jadi memojokkan aku, Sehun?ā Jongdae mengusap ingusnya dengan punggung tangan, ia balas menatap Sehun kesal. āDan darimana kamu tahu kalau dia tidak ingin dilahirkan? Katanya kamu ingin melindungiku?ā
āJongdae Sayang.ā Bibi Ohāibu Jongdaeāmengelus pundak Jongdae lembut. āDia kemungkinan bukan hanya akan terlahir cacat, tapi juga membahayakan keselamatan nyawamu, kau bisa saja meninggalkan ketika kelahirannya nanti.ā
āAku tidak masalah kalau harus mati demi melahirkannya.ā
Kim Jong Dae!
āKim Jongdae cukup!ā Bentakan itu membuat Jongdae menatap ibunya takut-takut. āAku tidak melahirkan seorang anak yang hanya untuk mati demi melahirkan anak lainnya.ā
Aku cepat-cepat berbisik pada Kyungsoo ketika aku melihat Bibi Oh tengah berjalan ke arah pintu dengan wajah masam. āKyung, ayo cepat pergi dari sini.ā
āHwh, aku bukan pembantāā
āSssttt, sebentar!ā cegahku ketika ternyata Bibi Oh berbalik menghampiri Jongdae lagi.
āAh, dan satu lagi Jongdae, melahirkan itu tidak semudah buang air besar atau ketika kalian sedang membuatnya!ā
Aku kembali menepuk-nepuk lengan Kyungsoo gugup. āCepat-cepat pergi dari sini, Kyung!ā
Kyungsoo mengembuskan napas lelahnya, lalu bergegas mendorong kursi rodaku pergi dari depan pintu kamar Jongdae. Kyungsoo mengambil arah berbeda dengan arah yang ibu Jongdae ambil.
Sesaat, isi percakapan mereka kembali terngiang di kepalaku seperti kaset bajakan.
āAkibat obat penggugur yang gagal membunuhnya itu, dia kemungkinan besar tidak akan terlahir sempurna.ā
Aku melirik sekilas bangunan serambi rumah sakit yang kami lewati, lalu menunduk lesu dengan berbagai perasaan aneh yang hinggap di hatiku, rasanya benar-benar tidak nyaman dan aku ingin menyingkirkan saja jika bisa.
Makhluk itu masih hidup, padahal aku memberi dosis yang sangat tinggi untuk Jongdae agar makhluk itu mati. Dan kabar buruk lainnya adalah: dia kemungkinan akan terlahir cacat bahkan membahayakan nyawa Jongdae? Apa yang sebenarnya sudahku perbuat!
āDi mana kamarmu?ā
Sepasang suami-istri melintas dihadapanku dengan sebuah buntelan panjang yang mereka timang-timang, senyum merekah terpancar jelas dalam wajah mereka. Aku melirik sekilas untuk melihat apa yang tengah mereka bawa, lalu aku menghela napas kecewa ketika tahu bahwa buntelan itu ternyata adalah sebuah bayi.
āAww! Sakit sialan!ā Aku mengumpati Kyungsoo yang seenaknya menjitak kepalaku.
āSejak tadi aku bertanya berulang kali di mana kamarmu, Bodoh!ā Kyungsoo memainkan kursi rodaku dengan cara mendorongnya kuat lalu tiba-tiba memberhentikannya, secara berulang-ulang hingga membuat tubuhku sakit akibat tehentak-hentak.
āAku tidak mendengar suaramu, Bodoh!ā balasku tak kalah sengit.
āAish, cepat. Di mana kamarmu?ā tanya Kyungsoo tak sabaran.
āAku tak tahu.ā
Aku yakin saat ini Kyungsoo tengah memelototiku dengan mata bulatnya itu, itu terbukti dengan perubahan cuaca disekitar rumah sakit yang tadinya cerah tiba-tiba berubah mendung.
Tanpa mengatakan apa pun, Kyungsoo kembali mendorongku.
āKita mau ke mana?ā
āKembali ke tempat di mana pertama kali aku menemukanmu!ā
Aku tak lagi menanggapinya, saat ini kepalaku tengah pusing, bukan waktu yang tepat untuk mencari gara-gara.
Aku mencintai Jongdae seperti aku mencintai sirkuit, aku memperlakukannya sama seperti aku memperlakukan makanan kesukaanaku atau baju topiku.
Aku tidak ingin kehilangan Jongdae.
Batinku menjerit tertahan, sadar aku masih di tempat umum dengan Kyungsoo yang berada dibelakangku. Jika Jongdae melahirkan makhluk itu dan ia tidak selamat ....
"Kyung, menurutmu apa saja ciri-ciri seorang pembunuhā"
āChanyeol.ā
āAh, Paman Kim.ā Aku memaksakan senyum begitu ayah Jongdae tiba-tiba saja beberapa langkah ada di depanku dan tengah berjalan ke arahku.
āAda apa dengan kakimu?ā
Aku mengernyit heran, biasanya orang tua Jongdae tidak seramah ini denganku. Apa dunia sudah mau kiamat? Kok, cepat sekali padahal Dajjal dan Yakjuj dan Makjuj saja belum memulai pertunjukkannya.
āTadi malam aku tidak sengaja jatuh dari motor,ā jawabku, āaku hanya perlu sedikit beristirahat untuk bisa berjalan lagi.ā
Paman Kim melirik Kyungsoo sekilas. āSemoga cepat sembuh,ā doanya. Aku pikir dia akan langsung pergi hingga kata-kata itu terucap dari bibir tipisnya, āApa kita bisa bicara secara pribadi?ā
Aku tidak ingin menduga-duga apa yang ayah Jongdae ingin bicarakan padaku, yang aku lakukan saat itu hanyalah mengangguk mengiyakan. Lalu setelahnya, kursi rodaku sudah berpindah tangan ke ayah Jongdae dan Kyungsoo berpamitan begitu saja.
Hujan lebat mengguyur kota ketika Paman Kim membawaku ke kantin rumah sakit, dia duduk didepanku dengan tangan yang saling bertautan diatas meja. Beberapa saat hingga pesanan kami datang beliau tidak mengatakan apa yang menjadi penyebab membawaku ke sini.
āEhem.ā Aku berdeham, berharap dengan begitu dapat menyadarkannya untuk segera berbicara.
Sorot tajam itu menatap manik mataku lekat. āApa kau sangat mencintai Jongdae, Chanyeol?ā
Aku tidak langsung menanggapinya. āTumben Anda menanyakan hal sepribadi ini dengan saya?ā tajamku, ābukankah Anda biasanya membenci saya?ā
Dia menghela napas. āAhaha, benar. Biasanya aku selalu mencurigaimu setiap kali kau menjemput Jongdae.ā Paman Kim mencondongkan tubuhnya padaku, aku menatap wajahnya yang sangat mirip dengan wajah Jongdae itu. āJongdae telah mengkhianatimu,ā ujarnya merasa bersalah. āDengar, aku memang tidak begitu menyukaimu, tapi secara pribadi sebagai seorang ayah untuk Jongdae, aku ingin meminta maaf dengan tulus atas nama putra tunggalku.ā
Aku mengernyit bingung. āMaksud Anda?ā
Dia menghela napas berat. āJongdae selingkuh dengan Sehun dan saat ini dia tengah mengandung.ā
Detik di mana Paman Kim menyelesaikan ucapannya, rasa-rasanya aku ingin menepuk jidatku sambil berteriak, āJongdae tidak selingkuh!ā
āA-apa?ā
Lalu detik itu juga aku sadar bahwa ucapanku itu benar-benar terjadi di dunia nyata, aku tidak sedang membayangkannya seperti apa yang aku pikirkan.
āApa maksudmu, Chanyeol?ā Paman Kim menggoyang-goyangkan bahuku. āKau tahu sesuatu?ā
20 tahun yang lalu, ketika saya masih di taman kanak-kanak, seorang guru secara khusus memberi tahu anak laki-laki tentang tanggung jawab dan kejujuran sebagai tonggak penting kedewasaan bagi seorang pria sejati.
Aku mencintai Jongdae, meski aku juga sadar akulah yang merusak masa depan Jongdae. Aku menginginkannya meraih apa yang dia cita-citakan, namun disaat yang bersamaan aku juga membuat dinding yang dapat menghancurkan cita-cita tersebut.
Aku mencintai Jongdae seberapa seringpun Jongdae bertanya kapan aku akan berhenti balapan.
āApa bagusnya balapan? Mending belajar membuat lagu, Chan.ā
āKapan kamu akan berhenti balapan, Chan?ā
āKapan kamu akan berhenti melakukan itu, huh?ā
āChan, Chan, Chan, Chan. Pilih aku atau sirkuit?ā
āPark Chanyeol aku akan sangat marah kalau kamu masih ikut balapan!ā
āBerhenti balapan!ā
Waktu itu adalah hari usia legal Kai di mana kita semua merayakannya dengan minum-minum dan menonton film dewasa. Aku sangat mabuk hingga tanpa sadar berkata ....
āAku akan berhenti balapan jika aku sudah pernah kecelakaan hik ... hingga masuk rumah sakit, tidak bisa berjalan selama beberapa waktu dan aku merasa tidak berguna, hik.ā
Aku mengetahui hal itu keesokan harinya ketika Jongdae menunjukkan rekamannya padaku sambil tertawa nyaring. Entah benar atau tidak, tapi firasatku mengatakan sejak saat itu Jongdae berdoa agar suatu saat nanti aku benar-benar kecelakaan tapi tidak sampai mati.
Dengan takut-takut, aku menatap wajah ayah Jongdae. Menyingkirkan malu dan ego yang sudah kadung bersemayam dalam setiap aliran darahku.
āChanyeol, kau membuatku takut dengan tatapanmu itu.ā
Aku melompat turun dari kuri rodaku, merangkak menghampiri kaki ayah seseorang yang sudah aku rusak tubuh, masa depan, dan mungkin juga perasaannya.
āChanyeol, apa yang kau lakukan?ā Paman Kim coba meraih pundakku dan membuatku bangun. āBangun atau aku akan menendang kepalamu.ā
Kepalaku yang tertunduk malu menggeleng kecil. āMaafkan saya.ā
āApa maksudmu?ā
āMaa ... jika Anda sudah mendengarnya sendiri dari mulut saya, setelahnya Anda bebas jika ingin memenggal kepala saya dan menggantungnya di Namsan Tower.ā Aku meringis, menahan nyeri pada kakiku yang terluka. āSebenarnya, sa-sayalah yang sudah merusak Jongdae.ā
Tidak ada lagi tepukan ringan dibahuku seperti tadi. Tiba-tiba saja suasananya menjadi hening, lebatnya hujan seakan meredam semua aktivitas yang orang-orang di rumah sakit lakukan, suara-suara itu kini hanya terdengar seperti ribuan lebah yang saling sahut-sahutan ditelingaku.
Aku membasahi bibirku yang terasa kering, ujung tenggorokanku tiba-tiba tercekat.
āAyah makhluk yang ada didalam perut Jongdae adalah hasil dari benih saya, bukan Sehun.ā
āApa maksudmu!ā Aku meringis ketika mendengar suara ayah Jongdae berubah menjadi geraman.
āJongdae tidak pernah ...,ā ucapku mengantung. Jongdae tidak pernah selingkuh dengan Sehun. Namun entah bagaimana tenggorokanku begitu berat untuk mengatakannya, masih ada keraguan dalam hatiku mengenai ini, bahkan ketika tadi aku mengatakannya rasanya sangat aneh. āSaya yang sudah menghamili Jongdae, saya yang sudah memberikan obat penggugur itu pada Jongdaāā
āBRENGSEK!ā
Aku merasakan tendangan kemarahan itu mengenai hulu hatiku hingga membuatku terjengkang. Beberapa orang yang melintas memekik kaget bercampur kebingungan yang tersorot dalam wajah mereka.
āKau. Berani-beraninya!ā
Aku melindungi wajahku dengan kedua tangan ketika tangan ayah Jongdae terangkat tinggi seperti akan memukul wajahku.
āPaman!ā
Teriakan itu mengalihkanku dari rasa takut.
āKau?ā Telunjuk Paman Kim bergetar marah menunjuk wajah Sehun yang berada beberapa langkah dari tempatnya. āBerani-beraninya kalian membohongiku!ā
āApa yang Paman katakan?ā tanya Sehun bingung. Berulang kali dia melihat ke arahku dan ayah Jongdae, tanpa berniat sedikit pun membantuku berdiri.
āKenapa kau berbohong pada kami bahwa kaulah yang telah menghamili Jongdae?ā tanya Paman Kim dengan suara dalam dan lirih.
Sehun menggeleng. āAku tidak berbohong, aku benar-benar sudah melakukannya dengan Jongdae Hyung beberapa kali, bahkan akulah yang pertama menyentuhnya.ā
Aku mengepalkan tangan kesal dengan semua omong kosongnya.
Aku berusaha merangkak dan meraih kursi rodaku.
āPaman, kau bisa mempercayaiku, keponakanmu.ā
āSemua yang keluar dari mulutnya adalah kebohongan akan obsesinya terhadap Jongdae.ā
Sehun menatapkuāyang sudah kembali duduk diatas kursi rodaātajam. āAku. Memang. Ayah. Dari. Janin. Brengsek. Itu, Bajingan!ā
š„š„š„
