Bab 2: Kesan Pertama
Dari sudut pandang TN
Gedung itu bahkan lebih megah jika dilihat langsung. Dinding kaca yang tinggi, pintu otomatis yang terbuka dengan dengungan lembut, dan lobi yang beraroma kopi yang baru diseduh dan kesuksesan. Y/N mencengkeram tali tasnya dengan tangan gemetar dan menarik napas dalam-dalam. Hari pertamanya sebagai penerjemah resmi di BigHit Entertainment. Lebih tepatnya, sebagai penerjemah untuk salah satu rapper paling terkenal di Korea: Min Yoongi. Suga.
Gagasan itu masih terasa tidak nyata baginya. Dan pada saat yang sama, juga meresahkan.
"Y/N, kan?" Sebuah suara hangat membuyarkan lamunannya. Itu suara seorang wanita dengan senyum ramah dan sebuah map di tangannya. "Saya Jiwoo, dari tim sumber daya manusia. Saya akan mengajakmu berkeliling fasilitas dan kemudian memperkenalkanmu kepada tim."
Y/N mengangguk sambil tersenyum malu-malu, bersyukur memiliki pemandu di dunia baru yang agak menakutkan ini.
Selama satu jam berikutnya, mereka berkeliling berbagai lantai gedung: kantor, ruang pertemuan, studio rekaman, area umum. Semuanya modern, bersih, dan efisien. Dia melihat penata gaya membawa pakaian, manajer berbicara di telepon, dan peserta pelatihan berlatih gerakan tari di depan cermin.
"Dan ini Studio A3. Sebagian besar produser bekerja di sini." Jiwoo berhenti sejenak sebelum membuka pintu. "Dan, yah... di sinilah kalian mungkin akan menghabiskan banyak waktu."
Pintu terbuka perlahan, dan aroma kopi serta suara-suara lembut berfrekuensi rendah langsung menyelimutinya. Y/N tidak tahu apakah itu karena akustik studio atau karena gugup, tetapi jantungnya seakan berhenti berdetak saat matanya bertemu dengan mata pria itu.
Min Yoongi duduk di depan konsol, headphone tergantung di lehernya, ekspresi wajahnya sulit ditebak. Saat melihatnya, dia mengangkat alisnya, seolah menilainya, seolah diam-diam sudah menghakiminya. Kemudian, dia hanya mengangguk.
—Suga, ini Y/N, penerjemah barumu. —kata Jiwoo dengan nada profesional.
Dia melirik Jiwoo sejenak, lalu kembali menatap Y/N.
"Senang sekali," katanya. Suaranya datar, tanpa sedikit pun antusiasme.
—Senang bertemu denganmu—jawab Y/N, berusaha mempertahankan senyum netral.
Keheningan menjadi canggung sesaat. Dia tidak tampak kesal, tetapi juga tidak ramah. Y/N merasa ada sesuatu yang menantangnya, seolah-olah kehadirannya saja sudah menjadi penghalang.
Jiwoo sepertinya menyadarinya dan berdeham.
—Oke, aku akan pergi sekarang. Y/N, kamu akan berada di bilik sebelah. Jika kamu butuh sesuatu, aku akan berada di lantai 3.
Saat pintu tertutup, keheningan semakin mencekam. Suga kembali fokus pada layar di depannya, seolah-olah wanita itu tidak ada di sana.
Y/N duduk di meja barunya, menyadari setiap gerakan, setiap suara kecil yang dia buat. Itu bukanlah sambutan yang hangat. Tapi entah kenapa, dia tidak bisa menahan rasa ingin tahu... dan mungkin, hanya mungkin, sesuatu yang lebih.
Karena dalam pandangan sekilas itu, sebelum dia memalingkan muka, ada sesuatu. Aku tidak bisa menggambarkannya, tetapi itu bukan sekadar ketidakpedulian. Dan jika itu adalah penghinaan... itu memiliki nuansa yang sangat khusus.
Dan begitulah, tanpa disadari, sesuatu yang lebih dari sekadar hubungan profesional pun dimulai.
---
